kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.774.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.974   127,00   0,71%
  • IDX 5.912   -283,76   -4,58%
  • KOMPAS100 785   -39,02   -4,73%
  • LQ45 594   -25,63   -4,14%
  • ISSI 205   -9,79   -4,56%
  • IDX30 337   -12,31   -3,52%
  • IDXHIDIV20 417   -11,16   -2,61%
  • IDX80 89   -4,39   -4,69%
  • IDXV30 114   -3,60   -3,06%
  • IDXQ30 109   -3,20   -2,84%

Ekonom: Atasi CAD, kebijakan energi harus jelas


Senin, 02 Desember 2013 / 20:42 WIB
ILUSTRASI. PT Ciputra Development Tbk (CTRA) menilai bisnis sewa gedung perkantoran masih menghadapi sejumlah tantangan.. KONTAN/Baihaki/16/02/2017


Sumber: Kompas.co | Editor: Dikky Setiawan

JAKARTA. Defisit neraca transaksi berjalan atawa current account deficit (CAD) masih harus menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.

Kepala Ekonom Bank Mandiri Destry Damayanti mengatakan seharusnya pemerintah dapat mengambil langkah antisipasi akibat tingginya impor minyak.

Pemerintah, kata dia, diharapkan dapat lebih berperan dalam menekan defisit tersebut melalui penerbitan kebijakan fiskal.

"Perlu kebijakan energi yang jelas dari pemerintah. Defisit transaksi berjalan kita sudah besar, pemerintah harus mengharmonisasi kebijakannya dengan kebijakan BI," kata Destry di Jakarta, Senin (2/12/2013).

Lebih lanjut Destry mengatakan, faktor yang menyebabkan tingginya defisit neraca transaksi berjalan adalah impor migas. Ini menyebabkan kebijakan moneter BI menjadi tak banyak berpengaruh terhadap defisit.

"Jadi, apa pun yang dilakukan Bank Indonesia melalui kebijakan moneternya tidak akan mengubah banyak current account deficit," ujar dia.

Destry juga mengatakan bahwa pergerakan rupiah juga dipengaruhi defisit neraca transaksi berjalan. Ia mengatakan pada periode 2005 hingga 2006 terjadi defisit neraca transaksi berjalan, namun hanya berlangsung selama 1 triwulan sehingga rupiah cepat pulih. Begitu pun pada periode yang sama tahun 2008 hingga 2009.

"Sekarang yang terjadi adalah current account deficit sudah masuk ke 8 triwulan. Kami perkirakan defisit itu masih akan terus terjadi, walaupun mungkin secara rasio akan lebih kecil di 2014-2015. Tapi paling tidak 6 triwulan ke depan kita masih defisit," kata Destry. (Sakina Rakhma Diah Setiawan)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×