Reporter: Hervin Jumar | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penurunan harga ayam dan telur di tingkat peternak tidak bisa semata-mata dijelaskan oleh kelebihan pasokan.
Pengamat Pertanian dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Eliza Mardian, menilai salah satu pemicunya adalah ekspektasi permintaan yang terlalu tinggi terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG), sementara realisasi program tidak berjalan sesuai target.
Menurut Eliza, saat program MBG mulai dijalankan, banyak pelaku usaha meningkatkan produksi dengan harapan permintaan dari program tersebut akan menyerap lebih banyak komoditas pangan.
Baca Juga: Harga Ayam Anjlok, Bapanas Dorong Bantuan Pangan Digulirkan Lagi
Namun, implementasi MBG terkendala persoalan tata kelola dan kapasitas fiskal sehingga penyerapannya tidak sebesar yang diperkirakan.
"Jadi ada yang memang salah satu penyebabnya karena ekspektasi yang tinggi terhadap program MBG, tetapi pada pelaksanaannya MBG tidak sesuai target karena persoalan tata kelola MBG dan kapasitas fiskal kita yang kian terbatas. Jadinya terjadi oversupply karena tidak terserap MBG. Ini yang terjadi pada telur dan ayam," ujar Eliza kepada Kontan, Senin (29/6/2026).
Meski begitu, ia menegaskan MBG bukan faktor tunggal di balik anjloknya harga ayam dan telur.
Menurutnya, pelemahan harga juga dipengaruhi melemahnya daya beli masyarakat serta berbagai persoalan struktural di sektor pangan.
"Masalah harga telur ayam ras yang anjlok di tingkat peternak sekarang ini tidak bisa dilihat secara sederhana sebagai sekadar oversupply biasa. Memang benar ada kelebihan pasokan yang cukup signifikan, tetapi akar persoalannya jauh lebih dalam dan struktural," katanya.
Baca Juga: Intervensi Pangan Diproyeksi Tahan Inflasi Mei, Harga Ayam & Telur Turun di Bawah HAP
Eliza menjelaskan, ekspansi produksi yang masif didorong oleh ekspektasi permintaan MBG yang ternyata terlalu tinggi (overstated). Pada saat yang sama, konsumsi masyarakat belum cukup kuat untuk menyerap tambahan pasokan tersebut.
Persoalan tersebut, lanjutnya, diperparah oleh lemahnya koordinasi perencanaan antara pasokan dan permintaan secara nasional serta inefisiensi rantai pasok yang masih panjang.
Akibatnya, harga di tingkat peternak (farm gate) turun tajam, sedangkan harga di tingkat konsumen hanya turun terbatas karena margin distribusi masih cukup besar.
"Harga farm gate anjlok tajam, tapi harga retail hanya turun marginal karena middleman dan distributor masih mengambil margin cukup besar. Peternak kecil hampir selalu menjadi price taker karena tidak punya akses langsung ke offtaker besar," jelasnya.
Selain itu, Eliza menyoroti struktur industri unggas yang semakin terkonsentrasi. Menurutnya, industri hulu seperti pakan ternak dan day old chick (DOC) telah menunjukkan karakter oligopolistik sehingga posisi tawar peternak rakyat semakin lemah.
Baca Juga: Harga Pangan Bergejolak, Harga Cabai dan Telur Ayam Melonjak
"Industri upstream seperti pakan dan DOC sudah menunjukkan karakter oligopolistik. Satu perusahaan saja bisa menguasai sekitar 35% pasar, sementara integrator besar memiliki integrasi vertikal yang membuat daya tawarnya jauh lebih kuat dibanding peternak rakyat mandiri," ujarnya.
Hanya saja, Eliza menilai program tersebut tetap menciptakan tambahan permintaan terhadap komoditas pangan. Namun, pengaruhnya terhadap kenaikan harga bahan pokok tidak sebesar yang selama ini dipersepsikan.
"MBG memang meningkatkan demand, tetapi signifikansinya terhadap kenaikan harga bahan pokok tidak sebesar itu. Ini karena ada beberapa faktor lain, baik yang bersifat struktural maupun musiman," pungkas Eliza.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














