Reporter: Hervin Jumar | Editor: Noverius Laoli
Akibatnya, harga di tingkat peternak (farm gate) turun tajam, sedangkan harga di tingkat konsumen hanya turun terbatas karena margin distribusi masih cukup besar.
"Harga farm gate anjlok tajam, tapi harga retail hanya turun marginal karena middleman dan distributor masih mengambil margin cukup besar. Peternak kecil hampir selalu menjadi price taker karena tidak punya akses langsung ke offtaker besar," jelasnya.
Selain itu, Eliza menyoroti struktur industri unggas yang semakin terkonsentrasi. Menurutnya, industri hulu seperti pakan ternak dan day old chick (DOC) telah menunjukkan karakter oligopolistik sehingga posisi tawar peternak rakyat semakin lemah.
Baca Juga: Harga Pangan Bergejolak, Harga Cabai dan Telur Ayam Melonjak
"Industri upstream seperti pakan dan DOC sudah menunjukkan karakter oligopolistik. Satu perusahaan saja bisa menguasai sekitar 35% pasar, sementara integrator besar memiliki integrasi vertikal yang membuat daya tawarnya jauh lebih kuat dibanding peternak rakyat mandiri," ujarnya.
Hanya saja, Eliza menilai program tersebut tetap menciptakan tambahan permintaan terhadap komoditas pangan. Namun, pengaruhnya terhadap kenaikan harga bahan pokok tidak sebesar yang selama ini dipersepsikan.
"MBG memang meningkatkan demand, tetapi signifikansinya terhadap kenaikan harga bahan pokok tidak sebesar itu. Ini karena ada beberapa faktor lain, baik yang bersifat struktural maupun musiman," pungkas Eliza.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














