kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.819.000   -20.000   -0,70%
  • USD/IDR 17.586   33,00   0,19%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Akses pendidikan tidak merata penyebab urbanisasi


Kamis, 31 Oktober 2013 / 11:08 WIB
ILUSTRASI. Pedagang melayani calon pembeli kebutuhan pokok di Pasar kawasan Tanjung Duren, Jakarta, Senin (7/3/2022). KONTAN/Fransiskus Simbolon


Reporter: Hendra Gunawan | Editor: Hendra Gunawan

JAKARTA. Pegiat pendidikan Anies Baswedan menyebut keterbatasan akses pendidikan di daerah menjadi pangkal dari derasnya arus urbanisasi.

"Yang menjadi persoalan, di Jabodetabek jumlahnya sudah proporsional, tapi jangan kita mengatakan hanya bicara urban. Justru diluar urban itu kita punya masalah dan itu yang menyebabkan migrasi ke Jakarta," ujar Anies di Kampus UI Depok, Rabu (30/10/2013).

Ia mengatakan masyarakat memang didorong untuk melakukan urbanisasi, karena keterbatasan fasilitas di daerah. Itulah sebabnya warga desa berbondong-bondong datang ke Jakarta sehingga menjadi begitu padat.

"Di kampung tak ada pekerjaan. Sudah lengkap tuh membuat Jakarta lebih macet. Calon bupati, calon gubernur banyak berjanji pendidikan, bagus itu, harus terus didorong, kalo pernah janji, youtubekan dan direkam nanti tagih," tukasnya.

Ia menilai akses pendidikan harus dibuka seluas-luasnya bagi seluruh masyarakat. Hal ini tentu harus disokong dengan penyediaan fasilitas yang mendukung program tersebut. "Kalau sekolah hanya di ibukota kecamatan, maka yang jauh kan jadi nggak bisa sekolah," tandasnya. (Tribunnews.com)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×