kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.947.000   0   0,00%
  • USD/IDR 16.843   41,00   0,24%
  • IDX 8.265   -25,61   -0,31%
  • KOMPAS100 1.168   -3,76   -0,32%
  • LQ45 839   -2,54   -0,30%
  • ISSI 296   -0,31   -0,10%
  • IDX30 436   -0,20   -0,04%
  • IDXHIDIV20 521   0,94   0,18%
  • IDX80 131   -0,34   -0,26%
  • IDXV30 143   0,44   0,31%
  • IDXQ30 141   0,17   0,12%

Ini Penyebab RI Sulit Naik Kelas ke Negara Berpendapatan Tinggi Menurut Bank Dunia


Rabu, 11 Februari 2026 / 04:34 WIB
Ini Penyebab RI Sulit Naik Kelas ke Negara Berpendapatan Tinggi Menurut Bank Dunia
ILUSTRASI. Bank Dunia beberkan reformasi struktural krusial agar Indonesia naik kelas. Pahami langkah-langkahnya agar ekonomi tak stagnan.(KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Sumber: Kompas.com | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Indonesia saat ini masih masuk dalam kategori negara berpendapatan menengah di dunia.

Meski telah mencatat berbagai kemajuan ekonomi, posisi tersebut dinilai belum cukup kuat untuk mengantarkan Indonesia naik kelas menjadi negara berpendapatan tinggi.

Bank Dunia (World Bank) menilai Indonesia sulit keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap) apabila tidak melakukan reformasi struktural yang lebih mendalam, khususnya dalam perbaikan iklim usaha dan investasi.

Lead Country Economist World Bank untuk Indonesia dan Timor Leste, David Knight, menyampaikan Indonesia belum mampu melompat ke kelompok negara berpendapatan tinggi, meskipun kinerja ekonomi dalam beberapa tahun terakhir tergolong cukup baik.

Menurutnya, masih ada sejumlah tantangan mendasar yang perlu dibenahi, terutama terkait kualitas lingkungan usaha.

“Indonesia telah membuat banyak kemajuan. Namun, jika melihat berbagai prasyarat pertumbuhan, khususnya yang berkaitan dengan kualitas iklim bisnis, Indonesia masih tertinggal pada banyak indikator,” kata David, dikutip dari Kontan.

Baca Juga: Resmi, ASN Dapat WFA Lebaran 2026 Selama 5 Hari, Bagaimana Karyawan Swasta?

Ia menilai persoalan ini sangat krusial karena Indonesia, seperti negara-negara lain dengan tingkat pendapatan serupa, harus mulai beralih ke mesin pertumbuhan ekonomi yang baru.

Model pertumbuhan yang selama ini mendorong Indonesia ke posisi sekarang dinilai tidak lagi memadai untuk membawa ekonomi menuju level pendapatan tinggi.

“Ke depan, pendorong pertumbuhan harus semakin bersifat endogen, berfokus pada peningkatan produktivitas, serta mampu memperluas pasar melampaui batas domestik guna mempercepat pembangunan dan mendorong inovasi,” tutupnya.

Faktor Indonesia sulit keluar dari negera berpendapatan menengah

Berdasarkan analisis Bank Dunia terhadap data perusahaan dan big data di Indonesia ditemukan bahwa ekosistem perusahaan besar di Indonesia kurang dinamis dan kurang produktif jika dibandingkan dengan negara lain yang memiliki ukuran ekonomi serupa namun berpendapatan lebih tinggi.

David menyoroti bahwa produktivitas perusahaan di Indonesia justru tidak meningkat seiring dengan bertambahnya skala usaha.

Baca Juga: China Conference SEA 2026 Mendorong Kerjasama Investasi Indonesia dan China

Bahkan, perusahaan yang lebih besar dan telah lama beroperasi cenderung menunjukkan tingkat produktivitas yang lebih rendah.

“Perusahaan yang lebih besar dan lebih tua di Indonesia justru cenderung kurang produktif, padahal seharusnya mereka menjadi motor utama penciptaan lapangan kerja berkualitas dan pendorong pertumbuhan ekonomi,” ucap David.

Temuan tersebut mengindikasikan perlunya perbaikan menyeluruh terhadap lingkungan persaingan usaha.


Video Terkait



TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! When (Not) to Invest

[X]
×