Reporter: Ahmad Febrian | Editor: Ahmad Febrian
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Posisi Indonesia dinilai semakin strategis dalam peta ekonomi regional, khususnya terkait investasi, ketahanan rantai pasok, dan diplomasi ekonomi di Asia Tenggara. Maka, South China Morning Post (SCMP) menggelar China Conference: Southeast Asia 2026. Konferensi ini menggandeng Kadin Indonesia dan Danantara Indonesia.
Forum ini berupaya mempertemukan pembuat kebijakan pelaku usaha, dan investor untuk membahas arah kerja sama ekonomi kawasan.
Mantan Chief Executive Hong Kong SAR, CY Leung menyatakan, Tiongkok menentang unilateralisme dan proteksionisme. Ia menyampaikan inisiatif tata kelola global Presiden Xi Jinping mendapatkan dukungan luas dari lebih dari 150 negara dan organisasi internasional. Inisiatif itu untuk menjaga sistem multilateral di tengah tantangan global.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menyebut Hong Kong sebagai mitra ekonomi strategis Indonesia. Menurutnya, nilai perdagangan bilateral Indonesia–Hong Kong mencapai sekitar US$ 6,5 miliar, dengan realisasi investasi Hong Kong di Indonesia sekitar US$ 10 miliar dalam beberapa tahun terakhir.
Baca Juga: Target Ekonomi 8%: Indonesia Gandeng China Perkuat Industri dan Investasi
"Peran perjanjian perdagangan bebas Hong Kong–ASEAN yang berlaku sejak 2020 memperkuat hubungan ekonomi dan bisnis kedua pihak," kata Airlangga, Selasa (10/2).
Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Novyan Bakrie menilai, konferensi ini relevan untuk memperkuat kerja sama bisnis dan investasi di kawasan. Ia menyebut Indonesia, Tiongkok, dan Asia Tenggara memiliki potensi besar menjadi pusat pertumbuhan global, didukung oleh pasar yang mencakup lebih dari dua miliar penduduk.
Danantara Indonesia bertindak sebagai country host partner dalam konferensi ini. Chief Investment Officer Danantara Indonesia, Pandu Sjahrir, menegaskan bahwa Danantara dikelola secara profesional dengan fokus utama pada kinerja investasi.
"Danantara mengadopsi prinsip business judgment rule untuk memastikan pengambilan keputusan berbasis pertimbangan komersial, sekaligus menjaga transparansi dan kepercayaan investor," kata Pandu.
Konferensi ini dihadiri sekitar 500 peserta dari Indonesia dan kawasan. Sekaligus menjadi bagian dari rangkaian peringatan 75 tahun hubungan Indonesia–Tiongkok menjelang APEC 2026 di Shenzhen.
Selanjutnya: Industri Kimia, Farmasi & Obat Tradisional Menopang Pertumbuhan Sektor IKFT pada 2025
Menarik Dibaca: Daftar Negara dengan PPN Tertinggi Di Dunia dan Pengaruhnya ke Biaya Hidup
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)