Reporter: Siti Masitoh | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bank Indonesia (BI) memperkirakan kinerja penjualan eceran pada Januari 2026 meningkat secara tahunan, namun terkontraksi secara bulanan.
Kinerja penjualan eceran diperkirakan meningkat secara tahunan tercermin dari IPR Januari 2026 yang diproyeksi tumbuh sebesar 7,9% year on year (yoy), atau naik dari periode sebelumnya sebesar 3,5% yoy.
Sementara itu, secara bulanan, penjualan eceran pada Januari 2026 diprediksi terkontraksi sebesar 0,6% month to month (mtm), setelah bulan sebelumnya tumbuh 3,1% mtm.
Baca Juga: Kinerja Penjualan Eceran Januari 2026 Diramal Turun Secara Bulanan
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede memperkirakan, kontraksi penjualan eceran secara bulanan di Januari 2026 berkaitan dengan pola musiman, yaitu fase normalisasi setelah lonjakan belanja akhir tahun.
Sebagaimana diketahui, BI mencatat penjualan eceran Desember 2025 naik secara bulanan 3,1% dan tahunan 3,5% karena dorongan Natal dan Tahun Baru, lalu untuk Januari 2026 diperkirakan tetap meningkat kuat secara tahunan 7,9% tetapi turun tipis secara bulanan 0,6%.
“Ini karena konsumsi kembali ke pola normal, terutama dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang turun 1,0% secara bulanan setelah puncak akhir tahun lewat,” tutur Josua kepada Kontan, Selasa (10/2/2026).
Meski demikian, ia melihat tidak semua kelompok melemah karena sebagian masih tumbuh bulanan seperti peralatan informasi dan komunikasi serta barang budaya dan rekreasi masing-masing mencapai 2,8%, perlengkapan rumah tangga lainnya 1,8%, dan sandang 1,3%, sehingga penurunannya lebih sempit dan tidak mencerminkan pelemahan menyeluruh.
Baca Juga: Penjualan Eceran Desember 2025 Tumbuh, Tapi Laju Tahunan Melambat
Adapun Josua memperkirakan, untuk dua hingga tiga bulan ke depan, penjualan eceran diperkirakan kembali menguat secara bulanan.
Hal ini sejalan dengan perkiraan BI bahwa, tiga dan enam bulan yang akan datang atau Maret dan Juni 2026, penjualan ecran diperkirakan meningkat.
Hal ini tercermin daro Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) Maret dan Juni 2026 masing-masing tercatat sebesar 175,7 dan 156,3, lebih tinggi dibandingkan dengan IEH pada periode sebelumnya sebesar 168,6 dan 154,5.
“Peningkatan ini yang didorong momentum Ramadan dan Idulfitri, sementara enam bulan ke depan justru lebih rendah Juni 2026 sebesar 135,4 yang memberi sinyal bahwa setelah puncak musiman Lebaran, permintaan berpotensi melandai lagi,” ungkapnya.
Josua menambahkan, dampak dari meningkatnya penjualan eceran terhadap pertumbuhan ekonomi adalah, karena penjualan eceran adalah barometer konsumsi rumah tangga.
Baca Juga: Survei BI: Penjualan Eceran Diprediksi Turun Pada Januari 2026 dan April 2026
Bila penjualan eceran mengalami perbaikan dan kuat, maka akan menopang pertumbuhan, perputaran usaha ritel dan logistik, serta penerimaan pajak, meski juga berpotensi menambah tekanan harga.
Meski demikian, Josua melihat penguatan harga tersebut kemungkinan tidak merata karena di sisi rumah tangga terlihat peningkatan kehati-hatian, yang tercermin dari porsi pendapatan untuk konsumsi yang menurun, sementara tabungan dan cicilan meningkat pada Januari.
Kondisi itu membuat sebagian belanja cenderung terkonsentrasi pada kebutuhan pokok dan kebutuhan Lebaran, sedangkan belanja barang tahan lama biasanya pulih lebih lambat.
Selanjutnya: Pemerintah Fasilitasi Mudik Gratis Lebaran 2026 Untuk 34 Provinsi Tujuan
Menarik Dibaca: Peringatan Dini BMKG Cuaca Besok (11/2), Provinsi Ini Diguyur Hujan Sangat Lebat
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













