kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.781.000   0   0,00%
  • USD/IDR 16.565   165,00   0,99%
  • IDX 6.511   38,26   0,59%
  • KOMPAS100 929   5,57   0,60%
  • LQ45 735   3,38   0,46%
  • ISSI 201   1,06   0,53%
  • IDX30 387   1,61   0,42%
  • IDXHIDIV20 468   2,62   0,56%
  • IDX80 105   0,58   0,56%
  • IDXV30 111   0,69   0,62%
  • IDXQ30 127   0,73   0,58%

UNICEF: Masih banyak anak Indonesia yang mengalami deprivasi di usia dini


Kamis, 23 Juli 2020 / 15:37 WIB
UNICEF: Masih banyak anak Indonesia yang mengalami deprivasi di usia dini
ILUSTRASI. A UNICEF logo is pictured outside their offices in Geneva, Switzerland, January 30, 2017. Picture taken January 30, 2017. REUTERS/Denis Balibouse


Reporter: Rahma Anjaeni | Editor: Noverius Laoli

Kemudian, pada saat seorang anak memasuki usia 5 tahun - 17 tahun mereka cenderung mengalami deprivasi dalam bidang pendidikan dan juga tempat tinggal.

Menurut Ratna, hal ini terkait dengan masalah infrastruktur pendidikan Indonesia yang kurang merata, serta juga terkait dengan lingkungan tempat tinggal anak-anak tersebut yang berada pada wilayah yang sulit dijangkau.

Jadi semakin meningkat usianya, anak-anak ini mengalami deprivasi yang semakin tinggi dalam akses pendidikan dan juga kualitas tempat tinggalnya.

Baca Juga: Cara merawat kesehatan mental bisa diajarkan ke anak, bisa dicoba

"Suatu kebijakan yang sifatnya universal tuition fee misalnya ya di bidang pendidikan. Ini mungkin sesuatu yang perlu kita pikirkan bersama, bagaimana supaya pendidikan itu bisa dijangkau gratis dan juga mengcover pocket money dari si anak ketika dia harus menjangkau sekolahnya," kata Ratna.

Apabila merujuk pada data Susenas BPS tahun 2018, diketahui bahwa secara persentase kemiskinan anak di desa lebih tinggi daripada anak-anak di kota, yaitu sebesar 15,7% kemiskinan anak di desa dan 8,9% kemiskinan anak di kota.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Survei KG Media

TERBARU

[X]
×