Reporter: Ahmad Febrian, kompas.com | Editor: Ahmad Febrian
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perekonomian Indonesia berada dalam kondisi stabil, tapi menghadapi tantangan struktural yang membuat laju pertumbuhan sulit dipercepat.
“Ekonomi Indonesia menunjukkan gejala inersia, yaitu kecenderungan bertahan pada pola lama. Kita berhasil menjaga stabilitas, tetapi belum cukup kuat mendorong lompatan produktivitas,” ujar Board of Advisors Prasasti Center for Policy Studies, Burhanuddin Abdullah, dalam Prasasti Economic Forum 2026, Kamis (29/1).
Indonesia memang mampu menjaga pertumbuhan ekonomi di kisaran 5% selama lebih dari satu dekade. Namun, menurut Burhanuddin, pencapaian tersebut sekaligus mencerminkan keterbatasan kemampuan ekonomi nasional berakselerasi ke tingkat pertumbuhan yang lebih tinggi.
Ia menilai, tantangan utama perekonomian nasional saat ini tidak semata bersifat siklis, melainkan struktural. Oleh karena itu, perlu keberanian dalam perumusan kebijakan, penguatan kelembagaan, serta peningkatan kualitas koordinasi lintas sektor.
Sementara Utusan Khusus Presiden Bidang Perdagangan Internasional dan Kerja Sama Multilateral, Mari Elka Pangestu, menegaskan, target pertumbuhan ekonomi tinggi bisa dicapai jika transformasi menuju ekonomi hijau diakselerasi secara serius dan terintegrasi. Dalam diskusi panel Prasasti Economic Forum 2026, mantan menteri perdagangan ini secara tegas mengusulkan pembentukan badan atau lembaga khusus yang kuat untuk mengoordinasikan agenda tersebut.
“Persoalan kita di orkestrasi. Ujung-ujungnya menurut saya, pada akhirnya harus ada badan. Badan karbon misalnya. Badan ini tentu bukan hanya mengurusi perubahan iklim, juga memastikan bagaimana prinsip ekonomi berkelanjutan dapat diterapkan secara konsisten di seluruh rantai ekonomi dan industri,” kata Mari.
Menurutnya, isu perubahan iklim dan transisi hijau terlalu besar dan kompleks untuk hanya ditangani oleh pejabat eselon I atau II di kementerian yang sudah memiliki segudang tugas lain. Lembaga khusus ini, harus dikelola oleh para ahli (expert) dan memiliki kewenangan yang memadai untuk memastikan kebijakan yang konsisten dan komprehensif.
Baca Juga: Indonesia Unjuk Komitmen Ekonomi Hijau di COP30
Menurut dia, Indonesia berpeluang mengejar pertumbuhan hingga 8%. dengan syarat “green road” atau jalan hijau digarap bersama semua sektor.
Transisi energi harus dilakukan dengan dua langkah paralel: mengakselerasi pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT) sembari mengelola penurunan penggunaan energi lama seoptimal mungkin. Namun, semua itu harus didukung oleh kesiapan sumber daya manusia.
Hashim Djojohadikusumo, Board of Advisors Prasasti menyatakan, investasi transisi hijau adalah agenda ekonomi strategis untuk menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kualitas hidup. Syaratnya, didukung aturan yang konsisten dan berpijak pada kepentingan nasional.
Selanjutnya: Estetika Ruangan Semakin Meningkat Drastis, Ini Rekomendasi Model Tirai Modern
Menarik Dibaca: Estetika Ruangan Semakin Meningkat Drastis, Ini Rekomendasi Model Tirai Modern
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













