kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.632.000   22.000   0,84%
  • USD/IDR 17.880   -62,00   -0,35%
  • IDX 6.340   108,24   1,74%
  • KOMPAS100 839   16,49   2,00%
  • LQ45 637   8,89   1,42%
  • ISSI 218   3,63   1,69%
  • IDX30 358   3,90   1,10%
  • IDXHIDIV20 444   3,51   0,80%
  • IDX80 96   1,59   1,69%
  • IDXV30 119   0,82   0,69%
  • IDXQ30 115   1,03   0,91%

Tekanan Fiskal Kian Berat, Beban Utang Hantui APBN 2026


Kamis, 12 Februari 2026 / 09:04 WIB
Tekanan Fiskal Kian Berat, Beban Utang Hantui APBN 2026
ILUSTRASI. ekspor,impor,pelabuhan,petikemas (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Dendi Siswanto, Siti Masitoh | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Tekanan fiskal Indonesia makin terasa seiring membengkaknya belanja negara dan besarnya kewajiban pembayaran utang pemerintah, di tengah penerimaan yang belum sepenuhnya pasti.

Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026, belanja negara ditetapkan sebesar Rp 3.842,7 triliun. Angka ini melonjak Rp 391,3 triliun dibandingkan realisasi belanja 2025 yang mencapai Rp 3.451,4 triliun.

Belanja tersebut terdiri atas belanja pemerintah pusat sebesar Rp 3.149,7 triliun dan transfer ke daerah Rp 693 triliun. 

Dari total belanja pemerintah pusat, porsi terbesar dialokasikan untuk pembayaran bunga utang yang mencapai sekitar 19%. Angka ini belum termasuk cicilan pokok utang pemerintah.

Baca Juga: Depresiasi Rupiah Tekan Sensitivitas APBN: Belanja&Beban Utang Berpotensi Makin Berat

Selain utang, belanja besar juga dialokasikan untuk program makan bergizi gratis melalui Badan Gizi Nasional (BGN) dengan porsi 8,51%. Selanjutnya, anggaran Kementerian Pertahanan dan TNI mencapai 5,94%, serta anggaran Polri sebesar 4,63%.

Di sisi lain, upaya mengejar penerimaan negara dinilai tidak mudah. Pemerintah mematok defisit anggaran sebesar Rp 689,14 triliun atau setara 2,68% dari produk domestik bruto (PDB).

Sorotan utama tertuju pada rasio pembayaran pokok dan bunga utang terhadap penerimaan negara atau debt service ratio (DSR). Rasio ini diperkirakan menembus 40%, jauh di atas ambang batas aman internasional sekitar 30%.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai ruang fiskal yang kian sempit menuntut pemerintah lebih cermat dalam menentukan prioritas belanja.

Baca Juga: Defisit RAPBN 2026 Melebar, Ekonom Peringatkan Risiko Beban Utang

Menurutnya, fokus tidak hanya pada pembiayaan program strategis, tetapi juga pada penguatan penerimaan negara agar beban utang bisa ditekan dalam jangka menengah dan panjang.

“Tren kenaikan pembayaran bunga dan cicilan utang harus menjadi alarm. Ketergantungan pada utang perlu dikurangi dengan memperkuat penerimaan pajak,” ujar Yusuf, Rabu (11/2).

Nada serupa disampaikan Ekonom Universitas Paramadina Wijayanto Samirin. Ia bahkan memperkirakan DSR Indonesia bisa mencapai 46% tahun ini. Kondisi tersebut membuat efektivitas APBN dalam mendorong pertumbuhan ekonomi menjadi terbatas.

Baca Juga: Beban Utang Menekan Ruang Fiskal 2026

DSR yang tinggi juga berdampak pada persepsi risiko investor terhadap surat berharga negara (SBN). Imbal hasil yang diminta investor cenderung lebih tinggi, sehingga beban bunga pemerintah terus meningkat dan berpotensi memperparah lingkaran utang.

“Kita bisa terjebak dalam utang. Jalan keluarnya adalah disiplin fiskal yang konsisten dalam lima hingga 10 tahun ke depan,” kata Wijayanto.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Strategi Implementasi PP 20 tahun 2026 (PPh Final UMKM) dan Mitigasi Risiko SP2DK

[X]
×