kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.553   53,00   0,30%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Tekan margin harga pangan, Apindo: Pemerintah tidak bisa mendikte pasar


Senin, 18 Februari 2019 / 15:46 WIB


Reporter: Benedicta Prima | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat margin perdagangan dan pengangkutan (MPP) semakin efisien pada tahun 2017. Kondisi ini menggambarkan harga yang diterima konsumen akhir semakin murah. Kendati demikian, untuk beberapa wilayah masih tercatat tinggi. Seperti di Sulawesi Barat, MPP daging ayam ras mencapai 69,3%. Padahal MPP nasional 24,68%.

Tingginya harga komoditas pangan bisa disebabkan oleh beberapa hal, antara lain perubahan musim serta rantai distribusi yang semakin panjang. Sayangnya untuk menekan, Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyadari pemerintah tidak bisa mendikte pasar.

"Perdagangan itu compete lho," jelas Ketua Bidang Perdagangan Apindo Benny Soetrisno kepada Kontan.co.id, Senin (18/2). Benny menegaskan bahwa margin yang tercipta pasti berbeda dari setiap perusahaan. Selain itu, Benny menegaskan perlu adanya penghitungan cost of fund dalam penghitungan margin.

Kendati demikian, semakin pendeknya pola distribusi menjadi penentu margin yang turun. MPP beras secara nasional tahun 2017 sebesar 25,35%, cabai merah 47,10%, bawang merah 49,06%, daging sapi 34,11%, daging ayam ras 24,68%, telur ayam ras 26,80%, gula pasir 32,67%, dan minyak goreng 18,70%. Cabai merah dan bawang merah masih memiliki margin yang cukup tinggi, mendekati 50%.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×