kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.630.000   -15.000   -0,57%
  • USD/IDR 17.913   43,00   0,24%
  • IDX 5.643   -177,60   -3,05%
  • KOMPAS100 728   -24,24   -3,22%
  • LQ45 553   -19,90   -3,47%
  • ISSI 197   -4,65   -2,31%
  • IDX30 314   -10,96   -3,37%
  • IDXHIDIV20 389   -11,74   -2,93%
  • IDX80 83   -2,75   -3,22%
  • IDXV30 107   -1,77   -1,63%
  • IDXQ30 102   -3,08   -2,93%

Surplus Neraca Dagang RI Diproyeksi Naik Jadi US$ 1 Miliar pada Mei 2026


Selasa, 30 Juni 2026 / 18:54 WIB
Surplus Neraca Dagang RI Diproyeksi Naik Jadi US$ 1 Miliar pada Mei 2026
ILUSTRASI. PT IPC Terminal Peti Kemas (Dok/IPC TPK)


Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Menjelang rilis data perdagangan Badan Pusat Statistik (BPS) pada 1 Juli 2026, surplus neraca dagang Indonesia diproyeksikan kembali melebar pada Mei 2026 setelah sempat merosot tajam pada April.

Namun, pelebaran tersebut diperkirakan hanya bersifat sementara karena dipicu normalisasi aktivitas impor pascalibur lebaran. Secara tren, surplus perdagangan Indonesia masih diperkirakan terus menyempit sepanjang 2026.

Head of Macroeconomics & Market Research PermataBank, Faisal Rachman memproyeksikan surplus neraca dagang Indonesia mencapai US$ 1,13 miliar pada Mei 2026, meningkat dari US$ 89,1 juta pada April 2026.

Baca Juga: Surplus Dagang RI Diprediksi Naik Jadi US$ 1,50 Miliar, Terdongkrak Harga Komoditas

Menurut Faisal, pelebaran surplus pada Mei terutama disebabkan oleh penurunan impor yang cukup dalam secara bulanan (month on month/mom) setelah lonjakan pascalibur Lebaran pada April.

Meski demikian, secara tahunan (year on year/yoy), impor masih diperkirakan tumbuh lebih tinggi dibandingkan ekspor.

Faisal memperkirakan impor pada Mei 2026 turun 9,25% mom, sementara secara tahunan masih tumbuh 12,65% yoy, meski melambat dari pertumbuhan 22,49% yoy pada April.

"Peningkatan surplus ini terutama mencerminkan normalisasi aktivitas impor setelah lonjakan pasca-Lebaran yang terjadi pada April 2026. Meski demikian, tren dalam satu tahun terakhir masih menunjukkan penyempitan surplus perdagangan," ujar Faisal kepada Kontan, Selasa (30/6/2026).

Ia menegaskan, pelebaran surplus pada Mei tidak mengubah tren yang ke depan sepanjang 2026.

Baca Juga: AS Penyumbang Terbesar Surplus Neraca Dagang RI di 2025, Tembus US$ 18,11 Miliar

"Overall secara tren, surplus perdagangan dalam satu tahun terakhir masih menyempit. Surplus pada Mei yang melebar dibanding April hanya karena faktor normalisasi," imbuhnya.

Dari sisi ekspor, Faisal memperkirakan nilai ekspor turun 5,11% secara bulanan akibat pelemahan harga batu bara dan crude palm oil (CPO).

Selain itu, volume ekspor juga diperkirakan melemah setelah data perdagangan terbaru China, mitra dagang terbesar Indonesia, menunjukkan penurunan impor dari Indonesia pada Mei 2026.

Sementara secara tahunan, ekspor diproyeksikan mengalami kontraksi 2,45% yoy, berbalik dari pertumbuhan 21,98% yoy pada April.

Menurut Faisal, perlambatan tajam tersebut sebagian dipengaruhi efek basis (high base effect), mengingat Mei 2025 merupakan periode setelah libur Lebaran ketika aktivitas perdagangan kembali meningkat.

Meski impor diperkirakan turun secara bulanan, Faisal menilai pertumbuhan impor secara tahunan masih lebih tinggi dibandingkan ekspor. Hal tersebut mencerminkan permintaan domestik yang tetap kuat.

Baca Juga: Surplus Neraca Dagang Menyempit Ke US$ 2 Miliar per April 2026, Efek Impor Energi

Ke depan, Faisal memperkirakan surplus perdagangan Indonesia akan terus menyempit sepanjang 2026. Penyebab utamanya adalah pertumbuhan impor yang diproyeksikan tetap melampaui pertumbuhan ekspor.

Menurutnya, kebijakan pemerintah yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi akan menjaga permintaan domestik tetap kuat sehingga mendorong impor.

Di sisi lain, pertumbuhan ekspor diperkirakan kembali normal setelah percepatan pengiriman barang pada tahun lalu yang mengantisipasi penerapan tarif yang lebih tinggi. 

Pelemahan permintaan global, terutama dari China sebagai mitra dagang utama Indonesia, diperkirakan akan terus menekan kinerja ekspor nasional.

"Meski kondisi geopolitik di Timur Tengah menunjukkan perbaikan dalam beberapa waktu terakhir, kami menilai situasi tersebut masih rapuh. Ketidakpastian terkait perang dagang global juga masih membayangi prospek ekonomi dunia sehingga membatasi aktivitas perdagangan internasional dan permintaan eksternal," jelas Faisal.

Baca Juga: Surplus Neraca Dagang Diproyeksi Menyempit Jadi US$ 1,43 Miliar pada April 2026

Ia juga memperkirakan meredanya ketegangan Amerika Serikat dan Iran pada semester II 2026 akan menurunkan premi risiko geopolitik, sehingga harga komoditas energi, termasuk minyak dan batu bara cenderung melemah.

Namun, harga CPO diperkirakan tetap bertahan karena potensi gangguan pasokan akibat fenomena El Nino yang dapat membatasi produksi dan mengimbangi sebagian tekanan penurunan harga.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Inventory Management: From Chaos to Control Sales Coaching: Lead Better, Sell More!

[X]
×