Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Noverius Laoli
Di sisi lain, pertumbuhan ekspor diperkirakan kembali normal setelah percepatan pengiriman barang pada tahun lalu yang mengantisipasi penerapan tarif yang lebih tinggi.
Pelemahan permintaan global, terutama dari China sebagai mitra dagang utama Indonesia, diperkirakan akan terus menekan kinerja ekspor nasional.
"Meski kondisi geopolitik di Timur Tengah menunjukkan perbaikan dalam beberapa waktu terakhir, kami menilai situasi tersebut masih rapuh. Ketidakpastian terkait perang dagang global juga masih membayangi prospek ekonomi dunia sehingga membatasi aktivitas perdagangan internasional dan permintaan eksternal," jelas Faisal.
Baca Juga: Surplus Neraca Dagang Diproyeksi Menyempit Jadi US$ 1,43 Miliar pada April 2026
Ia juga memperkirakan meredanya ketegangan Amerika Serikat dan Iran pada semester II 2026 akan menurunkan premi risiko geopolitik, sehingga harga komoditas energi, termasuk minyak dan batu bara cenderung melemah.
Namun, harga CPO diperkirakan tetap bertahan karena potensi gangguan pasokan akibat fenomena El Nino yang dapat membatasi produksi dan mengimbangi sebagian tekanan penurunan harga.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














