Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Surplus neraca dagang Indonesia pada April 2026 diprediksi menguat, menjadi US$ 3,78 miliar dibandingkan realisasi Maret yang sebesar US$ 3,32 miliar.
Investor Relations and Research (IRRD) Economicst Bank Tabungan Negara (Persero) Myrdal Gunarto mengatakan, ada beberapa faktor yang mendorong pelebaran surplus perdagangan tersebut.
Faktor pertama, kenaikan harga sejumlah komoditas sumber daya alam (SDA) Indonesia di tengah tren pelemahan rupiah. Ia menilai harga komoditas seperti batu bara, kelapa sawit, nikel, hingga biji besi olahan masih cukup menarik di pasar global.
Baca Juga: Berlaku Mulai Juni, Implementasi DHE SDA dan Badan Ekspor DSI Bisa Tekan Ekspor RI
“Di tengah tren pelemahan rupiah harga batu bara jadi menarik. Begitu pula komoditas seperti kelapa sawit, nikel, dan biji besi yang diolah,” ujar Myrdal kepada Kontan, Kamis (28/5/2026).
Selain komoditas, Myrdal melihat ekspor manufaktur Indonesia juga masih cukup terjaga. Pelemahan rupiah dinilai membuat harga produk manufaktur Indonesia menjadi lebih kompetitif di pasar internasional.
“Dengan rupiah seperti sekarang kelihatannya harga komoditas manufaktur kita juga jadi menarik,” katanya.
Myrdal menambahkan, meskipun tensi geopolitik global masih tinggi, ekspor Indonesia dinilai tetap berjalan baik karena sebagian besar pengiriman masih tepat sasaran ke negara tujuan ekspor utama.
Faktor kedua yang menopang surplus perdagangan adalah perlambatan impor. Menurut Myrdal, pelemahan rupiah membuat banyak importir menahan pembelian barang dari luar negeri, terutama bagi pelaku usaha yang belum melakukan lindung nilai atau hedging.
“Dengan kondisi rupiah yang melemah kelihatannya banyak importir yang menahan diri atau menunggu timing yang pas,” katanya.
Myrdal menilai kondisi tersebut juga tercermin dari penurunan indeks PMI manufaktur Indonesia pada April 2026 ke level di bawah 50 atau masuk zona kontraksi.
Menurutnya, kontraksi PMI menunjukkan aktivitas pembelian bahan baku dan barang kebutuhan manufaktur mengalami perlambatan.
Baca Juga: KPPU Lanjutkan Investigasi Dugaan Persaingan Tak Sehat E-Commerce
Meski demikian, Myrdal menilai kenaikan surplus neraca dagang April masih terbatas lantaran impor minyak diperkirakan tetap meningkat.
Ia mengatakan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) domestik masih tinggi karena harga sejumlah BBM seperti Pertalite, Solar, dan Pertamax belum mengalami perubahan.
“Karena harga komoditas BBM utama seperti Pertalite, Solar, Pertamax itu kan di kita belum berubah. Jadi konsumsinya masih tinggi, demand-nya masih tinggi,” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













