Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah ekonom memprediksi surplus neraca dagang Indonesia pada April 2026 akan menyempit dibandingkan bulan sebelumnya seiring kenaikan impor, terutama impor energi dan minyak di tengah pelemahan nilai tukar rupiah serta masih tingginya harga minyak dunia.
Kepala Ekonom Maybank Indonesia, Juniman memperkirakan surplus neraca dagang Indonesia pada April 2026 sebesar US$ 2,49 miliar, lebih rendah dibanding surplus Maret 2026 yang mencapai US$ 3,32 miliar.
Maybank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekspor April 2026 mencapai 13,67% secara tahunan atau year on year (yoy), sedangkan impor diperkirakan tumbuh 3,10% yoy.
Baca Juga: Neraca Dagang RI Terancam Defisit di April 2026, Efek Adanya Lonjakan Impor
“Surplus neraca dagang kita perkirakan agak narrowing ke US$ 2,49 miliar. Menyempit dari sebelumnya hampir US$ 3,32 billion,” ujar Juniman kepada Kontan, Jumat (29/5/2026).
Menurutnya, penyempitan surplus neraca dagang terjadi karena impor meningkat cukup cepat akibat dampak pelemahan nilai tukar rupiah. Kondisi tersebut terutama mendorong kenaikan impor minyak di tengah harga minyak dunia yang masih tinggi.
“Impor kita, terutama impor minyak, juga naik karena harga minyak masih tinggi,” katanya.
Di sisi lain, Juniman melihat kinerja ekspor Indonesia belum mengalami perubahan signifikan karena permintaan global masih cenderung stagnan.
“Ekspor kita juga enggak banyak berubah karena memang permintaan global juga kelihatannya stagnan,” tambahnya.
Senada, Ekonom Bank Danamon Indonesia, Hosianna Evalita Situmorang memperkirakan surplus neraca perdagangan Indonesia pada April 2026 juga akan menyempit menjadi sekitar US$ 2,22 miliar.
Meski demikian, level surplus tersebut dinilai masih cukup solid untuk menjaga ketahanan eksternal dan stabilitas cadangan devisa Indonesia.
Hosianna memproyeksikan pertumbuhan ekspor Indonesia pada April 2026 melonjak dari kontraksi 3,10% yoy pada Maret menjadi tumbuh 13,41% yoy. Peningkatan ekspor didorong tingginya harga energi dan crude palm oil (CPO) global.
Baca Juga: Surplus Neraca Dagang Diproyeksi Menyempit Jadi US$ 1,43 Miliar pada April 2026
Sementara itu, pertumbuhan impor diperkirakan meningkat dari 1,51% yoy menjadi 3,50% yoy akibat kenaikan biaya impor energi.
“Dari sisi eksternal, kinerja perdagangan Indonesia periode April 2026 diperkirakan membaik sejalan dengan tingginya harga energi dan CPO global,” ujar Hosianna kepada Kontan, Jumat (29/5/2026)
Menurutnya, meski surplus perdagangan menyempit, kondisi tersebut masih memberikan bantalan yang cukup baik bagi stabilitas sektor eksternal Indonesia, termasuk menjaga kecukupan cadangan devisa di tengah meningkatnya tekanan global.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













