Reporter: Hervin Jumar | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah mengandalkan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang telah mencapai 4,4 juta ton sebagai bantalan utama menghadapi ancaman El Nino yang diperkirakan mulai Mei 2026.
Kenaikan stok ini menjadi sinyal kesiapan pemerintah meredam gejolak pasokan dan harga pangan saat musim kemarau.
Badan Pangan Nasional (Bapanas) menegaskan penguatan cadangan pangan menjadi langkah awal mitigasi begitu sinyal El Nino terdeteksi.
Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa menyebut stok menjadi instrumen kunci menghadapi potensi gangguan produksi.
Baca Juga: Ada Konflik di Timur Tengah, Defisit Neraca Transaksi Berjalan RI Diramal Melebar
“Kami begitu mendengar ada fenomena El Nino yang akan terjadi, tentu kita sudah menyiapkan kewaspadaan. Penguatan cadangan pangan menjadi ujung tombak kita,” ujar Ketut dalam keterangan resmi, dikutip pada Minggu (5/4/2026).
Proyeksi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkuat urgensi tersebut. El Nino diperkirakan mulai berdampak di wilayah selatan ekuator Lampung, Jawa, Bali hingga Nusa Tenggara dengan intensitas kekeringan yang berpotensi lebih ekstrem.
Peneliti Ahli Utama Klimatologi BRIN, Erma Yulihastin, bahkan menyebut fenomena tahun ini berpotensi masuk kategori berat.
“Ini bahasa ilmiahnya adalah Super El Nino, yaitu El Nino yang memiliki kekuatan super, dimulai dari bulan Mei,” jelas Erma minggu lalu.
Di tengah ancaman tersebut, pemerintah memperkuat sisi hulu dan hilir. Produksi dijaga melalui Kementerian Pertanian, sementara Perum Bulog diminta agresif menyerap gabah petani guna mempertebal stok beras.
Baca Juga: QR Code BBM Subsidi Error? Ini Cara Daftar Ulang Akun Subsidi Tepat MyPertamina
Data per awal April menunjukkan stok CBP sebesar 4,4 juta ton, naik sekitar 300% dibandingkan Maret 2024 yang hanya 1,1 juta ton, serta naik lebih dari 90% dibandingkan Maret 2025 sebesar 2,3 juta ton. Pemerintah bahkan menargetkan stok bisa menembus 5 juta ton dalam waktu dekat.
Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman menilai capaian ini memberi ruang intervensi lebih besar dibanding periode sebelumnya.
“Sekarang ini capaian kita, stok CBP kita hari ini 4,4 juta ton, insya Allah bulan ini bisa mencapai 5 juta ton,” kata Amran dalam keterangannya.
Di sisi distribusi, intervensi pasar mulai berjalan. Program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) beras telah menyalurkan 70 ribu ton sejak Maret. Sementara bantuan pangan mencapai 21,3 juta kilogram beras dan 4,2 juta liter minyak goreng.
Pemerintah juga bersiap menggulirkan SPHP jagung pakan dengan target 242 ribu ton pada April, meningkat drastis dibanding realisasi tahun lalu.
Langkah ini untuk menjaga stabilitas sektor peternakan yang rentan terdampak kenaikan harga pakan saat kemarau.
Namun, ancaman El Nino tahun ini dinilai tidak bisa diremehkan.
Sebelumnya. Guru Besar Agroklimatologi Universitas Gadjah Mada, Prof. Bayu Dwi Apri Nugroho, mengingatkan intensitas fenomena yang kerap disebut “Godzilla El Nino” berpotensi menekan produksi pangan.
“El Nino itu sebenarnya siklus alami, sudah lama terjadi. Namun sekarang polanya terasa makin cepat karena pemanasan global. Nah, kalau intensitasnya sudah sangat kuat, dampaknya pasti terasa ke pertanian, terutama dari sisi produksi,” ungkap Bayu dalam keterangan resmi, Kamis (2/4/2026).
Menurut dia, komoditas utama seperti padi dan jagung menjadi yang paling rentan karena kebutuhan air yang tinggi. Kekurangan air berisiko mengganggu pertumbuhan hingga memicu gagal panen.
“Padi dan jagung ini paling terasa dampaknya karena butuh air cukup banyak. Kalau airnya kurang, pertumbuhannya terganggu, bahkan bisa berujung gagal panen,” tuturnya.
Risiko tersebut langsung berimbas pada petani. Penurunan hasil panen dan kualitas produksi berpotensi menekan pendapatan, bahkan menyebabkan kerugian ketika biaya produksi tidak kembali.
“Kalau kekeringan terjadi setelah tanam, petani bisa gagal panen. Artinya, biaya yang sudah dikeluarkan itu tidak kembali dan jadi kerugian,” kata Bayu.
Bayu menekankan mitigasi di tingkat petani menjadi kunci menekan risiko. Penguatan komunikasi dengan penyuluh, pemanfaatan varietas tahan kekeringan, hingga akses informasi cuaca dinilai krusial dalam menghadapi kondisi ekstrem.
“Kuncinya ada di komunikasi petani dan penyuluh. Kalau informasinya jelas, petani bisa ambil keputusan yang lebih tepat di lapangan,” terangnya.
Meski stok tebal memberi bantalan jangka pendek, tantangan utama tetap berada di sisi produksi. Ketika kekeringan menekan hasil panen, ketergantungan pada cadangan akan meningkat.
Dalam situasi itu, efektivitas koordinasi lintas sektor dari peringatan dini hingga inovasi pertanian akan menjadi penentu daya tahan pangan nasional.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













