kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.992.000   -5.000   -0,17%
  • USD/IDR 17.008   36,00   0,21%
  • IDX 7.022   -114,92   -1,61%
  • KOMPAS100 967   -21,57   -2,18%
  • LQ45 714   -14,61   -2,01%
  • ISSI 244   -4,92   -1,97%
  • IDX30 388   -4,33   -1,10%
  • IDXHIDIV20 485   -2,12   -0,43%
  • IDX80 109   -2,57   -2,31%
  • IDXV30 132   0,44   0,33%
  • IDXQ30 126   -0,69   -0,54%

CORE: Cadangan Beras 5 Juta Ton Bisa Percuma Tanpa Distribusi Tepat Sasaran


Senin, 16 Maret 2026 / 20:43 WIB
CORE: Cadangan Beras 5 Juta Ton Bisa Percuma Tanpa Distribusi Tepat Sasaran
ILUSTRASI. Stok beras Bulog Jawa Timur (ANTARA FOTO/ARI BOWO SUCIPTO)


Reporter: Hervin Jumar | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Langkah pemerintah memperbesar cadangan beras pemerintah (CBP) hingga 5 juta ton dinilai penting untuk memperkuat ketahanan pangan nasional. 

Kendati demikian, kebijakan tersebut berpotensi tidak efektif menjaga stabilitas harga apabila tidak diiringi dengan distribusi yang tepat sasaran.

Pengamat pertanian dari Center of Reform on Economics (CORE), Eliza Mardian, menilai peningkatan cadangan beras pada dasarnya bertujuan menjaga stabilitas pangan dalam jangka menengah.

Baca Juga: Hashim Sebut Indonesia Nomor Dua Kasus TBC, Soroti Permukiman Kumuh

Menurutnya, cadangan beras pemerintah berfungsi sebagai buffer stock untuk mengantisipasi berbagai potensi gangguan pasokan pangan, baik dari sisi produksi maupun distribusi.

“Cadangan beras berfungsi sebagai buffer stock untuk mengantisipasi berbagai risiko seperti gangguan produksi akibat cuaca, fluktuasi harga, maupun gangguan pasokan global,” tutur Eliza kepada Kontan, Senin (16/3/2026).

Ia menyebut, urgensi memperkuat cadangan pangan semakin tinggi di tengah meningkatnya ketidakpastian iklim dalam beberapa tahun terakhir. Selain itu, dinamika geopolitik juga berpotensi memicu disrupsi rantai pasok pangan global.

Eliza mencontohkan konflik antara Iran dan Israel yang dikhawatirkan dapat mengganggu rantai pasok pangan dunia, baik melalui jalur perdagangan maupun dampak lanjutan terhadap biaya logistik.

“Dalam kondisi seperti ini, memiliki cadangan pangan yang kuat menjadi instrumen penting bagi stabilitas pangan nasional,” jelasnya.

Dari sisi jumlah, cadangan beras sebesar 5 juta ton dinilai cukup signifikan. Eliza memperkirakan volume tersebut setara sekitar 15%–16% dari kebutuhan beras nasional dalam satu tahun.

Terlepas dari itu, ia mengingatkan besarnya stok beras tidak otomatis menjamin stabilitas harga di pasar. Cadangan besar berpotensi tidak berdampak apabila distribusinya tidak berjalan optimal atau tidak tepat sasaran.

“Cadangan besar ini akan percuma jika distribusinya tidak optimal dan tidak tepat sasaran serta tidak tepat waktu,” katanya.

Eliza menambahkan, kebijakan memperbesar cadangan beras juga perlu berjalan paralel dengan upaya meningkatkan produksi padi di dalam negeri. 

Baca Juga: Yield SBN Naik, Risiko Pembiayaan APBN Bisa Meningkat

Hal itu dapat ditempuh melalui peningkatan produktivitas, penerapan inovasi teknologi pertanian, perbaikan infrastruktur irigasi, serta penguatan sistem logistik pangan nasional.

Diberitakan sebelumnya, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman melaporkan cadangan beras nasional saat ini berada pada level yang relatif tinggi. Stok beras disebut telah mencapai sekitar 4 juta ton dan berpotensi meningkat menjadi 5 juta ton pada bulan depan.

“Khusus beras hari ini mencapai 4 juta ton dan kemungkinan bulan depan mencapai 5 juta ton. Ini tertinggi cadangan kita,” ungkap Amran dalam Sidang Kabinet Paripurna yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Jumat (13/3/2026).

Dengan jumlah tersebut, cadangan beras diperkirakan cukup untuk memenuhi kebutuhan nasional hingga sekitar 324 hari ke depan. 

Pemerintah berharap penguatan stok ini dapat menjadi instrumen stabilisasi pasokan di tengah dinamika harga pangan domestik.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Financial Statement in Action

[X]
×