Reporter: Siti Masitoh | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID – MADINAH. Kepulangan jemaah haji dari Sulawesi Selatan kembali mencuri perhatian di Bandara Internasional King Abdul Aziz, Jeddah. Ragam busana muslimah berwarna-warni yang dikenakan para jemaah, dipadukan dengan nuansa khas Timur Tengah, menghadirkan pemandangan yang mencolok dan menarik perhatian petugas bandara maupun jemaah dari berbagai negara.
Menteri Haji dan Umrah RI Mochamad Irfan Yusuf mengatakan, hal tersebut merupakan bagian dari tradisi serta identitas budaya yang telah lama menjadi ciri khas jemaah haji asal Sulawesi Selatan.
“Memang ini salah satu ciri khas dari jemaah Sulawesi Selatan dan ini adalah tradisi. Yang penting tidak keluar dari syariah, tidak masalah. Justru jadi hiburan tersendiri,” ujar Menhaj saat menyambut kepulangan jemaah Kloter UPG 7 di Bandara Jeddah, Sabtu (6/6/2026).
Fenomena yang kerap dijumpai hampir setiap musim haji ini sering membuat rombongan jemaah Sulawesi Selatan tampak seperti sedang mengikuti peragaan busana. Dengan langkah beriringan dan busana yang serasi, para jemaah tampil percaya diri namun tetap santun sesuai adab berhaji.
Baca Juga: Kemenhaj Pastikan Hotel hingga Layanan Kesehatan Jemaah Haji di Madinah Siap
Bagi jemaah asal Bone, Makassar, dan berbagai daerah lain di Sulawesi Selatan, membeli pakaian khas Arab Saudi telah menjadi bagian dari pengalaman perjalanan ibadah. Di sela waktu luang atau saat mengikuti city tour, sebagian jemaah menyempatkan diri berbelanja busana muslim, abaya, gamis, hingga berbagai cendera mata untuk keluarga di tanah air.
Tidak sedikit dari pakaian yang baru dibeli tersebut kemudian dikenakan saat perjalanan pulang. Karena dipakai secara bersamaan oleh banyak anggota rombongan, muncul kesan unik yang sering menarik perhatian masyarakat dan petugas bandara.
Tradisi ini juga menjadi bagian dari kegembiraan jemaah setelah menyelesaikan rangkaian ibadah haji. Selain membawa oleh-oleh untuk keluarga, mereka ingin membawa pulang kenangan dari Tanah Suci yang diwujudkan melalui busana khas yang dibeli selama berada di Arab Saudi.
Meski tampil modis, Gus Irfanmenegaskan bahwa yang terpenting adalah tetap menjaga kesederhanaan, tidak berlebihan, dan tidak bertentangan dengan nilai-nilai syariah. Selama batas-batas tersebut dijaga, tradisi tersebut dinilai sebagai bentuk kearifan lokal yang patut dihargai.
Baca Juga: Petugas Haji Diminta Siaga Penuh Sambut Kedatangan Jemaah Pasca-Armuzna di Madinah
Di tengah suasana kepulangan yang penuh haru dan kebahagiaan, barisan jemaah Sulawesi Selatan dengan busana khas mereka menjadi warna tersendiri di bandara.
Kehadiran mereka bukan hanya menunjukkan semangat membawa kenangan dari Tanah Suci, tetapi juga menghadirkan pemandangan yang unik, menarik, dan cukup menghibur bagi siapa saja yang melihatnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













