kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.700.000   20.000   0,75%
  • USD/IDR 17.890   8,00   0,04%
  • IDX 6.298   -75,61   -1,19%
  • KOMPAS100 824   -12,00   -1,44%
  • LQ45 627   -6,78   -1,07%
  • ISSI 218   -2,59   -1,18%
  • IDX30 351   -3,66   -1,03%
  • IDXHIDIV20 427   -2,58   -0,60%
  • IDX80 94   -1,30   -1,36%
  • IDXV30 118   -0,80   -0,68%
  • IDXQ30 111   -0,74   -0,66%

Standard Chartered Prediksi BI Tetap Hati-hati, Kredit Jadi Penopang Ekonomi


Kamis, 13 Agustus 2026 / 14:17 WIB
Standard Chartered Prediksi BI Tetap Hati-hati, Kredit Jadi Penopang Ekonomi
ILUSTRASI. Gedung Bank Indonesia (BI) di Jakarta (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Standard Chartered memperkirakan Bank Indonesia (BI) bakal tetap menjalankan kebijakan moneter secara hati-hati di sisa tahun 2026. Di sisi lain, kebijakan makroprudensial dan dukungan likuiditas dinilai masih bakal menjadi instrumen penting untuk mendorong pertumbuhan kredit domestik.

Senior Economist Standard Chartered Indonesia Aldian Taloputra mengatakan, prospek ekonomi Indonesia masih cukup kuat di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Standard Chartered pun menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 menjadi 5,3%, dari sebelumnya 5,2%.

Pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh permintaan domestik yang sehat serta investasi yang berkelanjutan, termasuk investasi yang berasal dari program prioritas pemerintah.

"Konsumsi rumah tangga yang tetap sehat didukung terjaganya daya beli dari kenaikan harga minyak dunia, investasi yang berkelanjutan terutama yang didorong oleh program prioritas pemerintah, serta kebijakan fiskal yang ekspansif menjadi fondasi yang kuat bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia," ujar Aldian dalam keterangan resmi, dikutip Kamis (13/8/2026).

Dalam pandangan Standard Chartered, dukungan terhadap pertumbuhan kredit bakal tetap menjadi salah satu bagian penting dalam menjaga momentum ekonomi domestik.

Bank asal Inggris tersebut memperkirakan berbagai kebijakan makroprudensial dan dukungan likuiditas akan terus berperan dalam mendorong pertumbuhan kredit perbankan.

Namun, dari sisi kebijakan moneter, BI diperkirakan tetap berhati-hati. Langkah tersebut diperlukan untuk menjaga keseimbangan antara stabilitas nilai tukar dan dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi, terutama di tengah dinamika pasar keuangan global.

Standard Chartered juga memperkirakan inflasi Indonesia berada di kisaran 3,4% pada 2026. Angka tersebut masih berada dalam rentang sasaran BI, meskipun terdapat potensi tekanan dari kenaikan harga impor akibat biaya energi dan risiko cuaca.

Peluang Bisnis Perbankan

Di tengah prospek pertumbuhan ekonomi tersebut, Standard Chartered melihat kebutuhan dunia usaha terhadap layanan perbankan juga semakin berkembang.

Head of Corporate & Investment Banking Standard Chartered Indonesia Amit Verma mengatakan, perusahaan kini tidak hanya membutuhkan pembiayaan konvensional. Kebutuhan terhadap solusi treasury, sustainable finance, layanan pasar modal, hingga pembiayaan lintas negara juga semakin meningkat.

Hal tersebut sejalan dengan langkah perusahaan yang mulai menata kembali rantai pasok, memperluas investasi lintas negara, serta mencari peluang bisnis baru di kawasan Asia, Timur Tengah, dan Afrika.

"Melalui jaringan internasional dan kemampuan kami dalam mendukung kebutuhan pembiayaan lintas negara, Standard Chartered siap membantu nasabah mengakses sumber pendanaan global, mengelola risiko keuangan, membiayai investasi strategis, serta memanfaatkan peluang yang muncul dari transformasi ekonomi regional," kata Amit.

Standard Chartered menilai Indonesia berada dalam posisi yang cukup baik untuk menangkap perubahan struktural tersebut. Investasi pada hilirisasi industri, infrastruktur pangan dan energi, sektor digital, serta berbagai proyek strategis nasional diperkirakan tetap menjadi penggerak pertumbuhan.

Seiring ruang fiskal yang semakin terbatas, Standard Chartered melihat investasi swasta dan foreign direct investment (FDI) akan semakin penting. Kondisi tersebut sekaligus membuka ruang bagi perbankan untuk mendukung kebutuhan pendanaan perusahaan, termasuk pembiayaan investasi dan transaksi lintas negara.

Secara global, Standard Chartered menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia 2026 menjadi 3%, dari sebelumnya 3,4%. Konflik di Timur Tengah, risiko geopolitik, ketidakpastian perdagangan, serta kenaikan biaya energi menjadi sejumlah faktor yang membuat prospek ekonomi global lebih menantang.

Meski demikian, negara-negara Asia dengan permintaan domestik kuat, termasuk Indonesia dan India, diperkirakan tetap lebih tangguh dibandingkan negara yang sangat bergantung pada perdagangan eksternal.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×