kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.605.000   -25.000   -0,95%
  • USD/IDR 17.923   88,00   0,49%
  • IDX 6.295   -80,26   -1,26%
  • KOMPAS100 820   -13,16   -1,58%
  • LQ45 624   -8,87   -1,40%
  • ISSI 218   -3,06   -1,39%
  • IDX30 346   -4,39   -1,25%
  • IDXHIDIV20 430   -4,48   -1,03%
  • IDX80 94   -1,40   -1,48%
  • IDXV30 118   -1,22   -1,02%
  • IDXQ30 111   -1,37   -1,22%

OECD Kerek Proyeksi Ekonomi RI 2026 Jadi 5,2%, Ini Faktor Pendorongnya


Kamis, 24 September 2026 / 13:02 WIB
OECD Kerek Proyeksi Ekonomi RI 2026 Jadi 5,2%, Ini Faktor Pendorongnya
ILUSTRASI. OECD Turunkan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi RI (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) atau Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi, merevisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 menjadi 5,2%, dari perkiraan sebelumnya sebesar 4,7% dalam laporan OECD Economic Outlook edisi Juni 2026.

Dalam laporan bertajuk OECD Economic Outlook Interim Report September 2026, revisi tersebut menunjukkan peningkatan proyeksi sebesar 0,5 poin persentase. OECD juga merivisi naik proyeksi ekonomi Indonesia 2027 menjadi 5,1% dari laporan Juni sebelumnya yang diprediksi hanya 5%. Meskipun angka tersebut sedikit melambat dari proyeksi pertumbuhan 2026.

Proyeksi ekonomi Indonesia tersebut lebih tinggi dibandingkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global yang diperkirakan mencapai 2,9% pada 2026 dan 3,0% pada 2027. Proyeksi pertumbuhan global 2026 tetap dipertahankan, sementara proyeksi 2027 direvisi turun dari 3,1% dalam laporan Juni menjadi 3,0%.

Baca Juga: Data Bank Indonesia: 518 dari 546 Pemda Sudah Terdigitalisasi

OECD menilai perekonomian Indonesia menunjukkan ketahanan di tengah perlambatan ekonomi global dan berbagai tekanan, termasuk kenaikan harga energi serta ketidakpastian perdagangan internasional.

Dalam laporan tersebut, OECD menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 didukung oleh permintaan domestik yang tangguh, termasuk konsumsi rumah tangga, serta kebijakan pemerintah yang membantu melindungi rumah tangga dan perusahaan dari dampak kenaikan harga energi.

“Pertumbuhan Indonesia diproyeksikan relatif stabil, sebesar 5,2% pada 2026 dan 5,1% pada 2027, dengan perbaikan terms of trade mendukung peningkatan investasi,” tulis OECD dalam laporan tersebut.

OECD mencatat, ketahanan permintaan domestik menjadi salah satu faktor yang membuat ekonomi Indonesia tetap tumbuh di tengah berbagai guncangan global. Selain Indonesia, permintaan domestik yang kuat juga menopang pertumbuhan sejumlah negara berkembang G20 seperti India dan Brasil.

Di sisi lain, aktivitas perdagangan juga masih memberikan dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi.

OECD melihat perdagangan barang global mulai pulih setelah terdampak konflik di Timur Tengah, sementara aktivitas perdagangan yang berkaitan dengan teknologi dan kecerdasan buatan (AI) turut menopang perdagangan di kawasan Asia.

Penopang ekonomi

OECD menilai konsumsi domestik Indonesia tetap relatif kuat meskipun terjadi kenaikan harga energi global. Kebijakan pemerintah untuk melindungi rumah tangga dan perusahaan dari dampak kenaikan harga energi turut membantu menjaga aktivitas ekonomi.

Baca Juga: BI Ungkap Risiko AI, Kerugian Serangan Siber RI Diperkirakan US$ 6,2 Miliar di 2026

Kondisi tersebut membuat dampak perlambatan global terhadap Indonesia relatif terbatas. Pertumbuhan ekonomi Indonesia bahkan diproyeksikan tetap berada di atas 5% pada 2026 dan 2027.

Selain konsumsi, perbaikan terms of trade juga menjadi faktor yang mendukung peningkatan investasi. Perbaikan tersebut menunjukkan kondisi perdagangan Indonesia relatif lebih menguntungkan sehingga memberikan ruang bagi aktivitas investasi untuk tetap tumbuh.

Namun, OECD tetap memperingatkan bahwa prospek ekonomi Indonesia maupun ekonomi global masih menghadapi sejumlah risiko.
Salah satu risiko terbesar berasal dari perkembangan harga energi. OECD memperkirakan harga minyak Brent dapat mencapai rata-rata sekitar US$105 per barel pada kuartal IV 2026, sebelum turun secara bertahap pada 2027.

Jika gangguan pasokan energi di Timur Tengah berlangsung lebih lama dari perkiraan, kenaikan harga minyak dan gas dapat menekan daya beli rumah tangga sekaligus meningkatkan biaya produksi perusahaan.

Risiko lain datang dari kemungkinan gangguan pasokan pangan akibat cuaca ekstrem. OECD memperkirakan terdapat risiko fenomena El Niño yang sangat kuat pada akhir 2026, yang dapat mengganggu produksi pertanian di sejumlah wilayah, termasuk Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara.

Proyeksi Inflasi 3,3%

Di tengah revisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi tersebut, OECD memperkirakan inflasi Indonesia mencapai 3,3% pada 2026, sebelum melandai menjadi 3,0% pada 2027.

Proyeksi inflasi 2026 tersebut lebih rendah dibandingkan perkiraan dalam laporan Juni 2026 sebesar 3,4%. Namun, untuk 2027, OECD justru merevisi naik proyeksi inflasi dari sebelumnya 2,8% menjadi 3,0%.

OECD menyebut kebijakan dukungan harga pemerintah turut mengurangi tekanan harga energi di Indonesia dalam jangka pendek.

Secara global, OECD memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia mencapai 2,9% pada 2026 dan meningkat menjadi 3,0% pada 2027.

Baca Juga: Rupiah Melemah ke Rp 17.900, BI Beberkan Faktor Global dan Domestik Jadi Pemicu

Dengan proyeksi pertumbuhan 5,2% pada 2026, ekonomi Indonesia masih menunjukkan ketahanan di tengah pertumbuhan global yang menghadapi tekanan dari kenaikan harga energi, ketidakpastian perdagangan, serta tingginya suku bunga jangka panjang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×