CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Siapa Benny Tjokro yang kini tersangka kasus korupsi Jiwasraya?


Selasa, 14 Januari 2020 / 20:42 WIB
Siapa Benny Tjokro yang kini tersangka kasus korupsi Jiwasraya?
Komisaris Utama PT Hanson International Tbk Benny Tjokro

Reporter: Ahmad Ghifari, Yuwono Triatmodjo | Editor: S.S. Kurniawan

KONTAN.CO.ID - Kejaksaan Agung, Selasa (14/1), menahan Benny Tjokrosaputro. Komisaris Utama PT Hanson International Tbk (MYRX) ditahan sebagai tersangka kasus dugaan korupsi PT Asuransi Jiwasraya.

"(Penahanan) ini merupakan sebuah proses penyelidikan yang kami lakukan dari usualn tim penyidik, maka kepada para tersangka dilakukan penahan, namun ada sindikasi korupsi," kata Adi Toegarisman, Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus.

Nama Benny Tjokro, panggilan Benny Tjokrosaputro, sudah tidak asing lagi di kalangan investor saham. Strategi investasi putra pertama dari pasangan Handoko Tjokrosaputro dan Lita Anggriani ini kerap menjadi rujukan bagi banyak pemain saham lain dalam meracik portofolio.

Baca Juga: Kejagung tahan Benny Tjokro dan Harry Prasetyo

Majalah Forbes tahun lalu memasukkan Benny Tjokro dalam daftar 50 orang terkaya di Indonesia. Cucu dari Kasom Tjokrosaputro, sang pendiri grup usaha Batik Keris, ini ada di urutan ke-43.

Forbes menaksir kekayaan pria yang lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 15 Mei 1969, ini mencapai US$ 670 juta atau sekitar Rp 9,14 triliun (kurs Rp 13.650 per dolar AS).  

Benny Tjokro memulai aktivitas investasinya di pasar modal sejak duduk di bangku kuliah. Alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Trisaksi, Jakarta, ini kenal dunia saham lantaran diajak teman-teman kuliahnya.

Baca Juga: Selain Benny Tjokro, Kejagung juga menahan Heru Hidayat

Saham PT Bank Ficorinvest Tbk merupakan portofolio pertama yang Benny Tjokro beli bermodal tabungan dari uang saku kuliah. Dia membelinya langsung di pasar perdana alias saat Ficorinvest melantai di bursa efek.

Lalu, apa yang membuat Benny Tjokro tertarik bermain saham waktu itu? "Sederhana saja, mau cari untung," katanya kepada KONTAN dalam wawancara pada 1 Februari 2019 lalu.

Tapi, ketika itu, sang Ayah memarahinya begitu tahu Benny Tjokro bermain saham. "Awalnya, dia pikir bermain saham itu judi, lalu saya dimarah-marahin. Tapi lama-kelamaan dibiarkan juga. Mungkin dia berfikir anaknya ini punya bakat. Sempat dimarah-marahi karena kalau saya rugi, kan dia yang nombokin," bebernya.

Mulanya, Benny Tjokro hanya mengeluarkan modal beberapa juta rupiah saja untuk bermain saham. Tapi, "Begitu mau lulus kuliah, nekat main sampai ratusan juta rupiah," ungkap dia.

Sejatinya, sang ayah pernah meminta Benny Tjokro untuk belajar berbisnis biar tidak ketagihan bermain saham. Misalnya, dengan membantu mengurus bisnis Keris Gallery.

Baca Juga: Kejagung tetapkan Benny Tjokro, Hary Prasetyo, dan Heru Hidayat tersangka Jiwasraya

"Disuruh ngurusin pertanian, juga pernah. Disuruh dagang semen sampai ke Timor Timur, pernah. Bangun rumah, pernah. Bikin pom bensin, pernah. Bebasin tanah, pernah. Jadi pengalaman saya sudah macam-macam," sebutnya.

Tapi, biarpun mendapat kerjaan macam-macam, tetap saja Benny Tjokro bermain saham. "Dasar doyan, ya akhirnya saya dibiarkan bermain saham oleh bapak. Sebenarnya dikasih tanggungjawab pekerjaan saat itu agar saya tidak bermain saham. Tetapi, ya tetap saja saya bermain saham," ujar dia.

Cuma akhirnya, Benny meneruskan bisnis sang ayah yang kini menjelma menjadi Hanson International. Dulu, ini merupakan pabrik garmen kecil yang ayahnya ambil alih.

Baca Juga: Ini rumah tahanan bagi kelima tersangka dugaan korupsi di Jiwasraya

Namun, waktu krisis moneter 1007-1998, kondisinya menjadi sangat berat sehingga harus menjalani restrukturisasi. "Sebetulnya, itu punya adik saya, oleh adik saya lalu dijual untuk bayar utang. Adik saya lalu minta tolong agar Hanson diselamatkan, padahal isinya sudah dijual untuk bayar utang," jelas Benny Tjokro.

Lalu, Benny Tjokro pun menyelamatkan Hanson. "Hanson tidak ada isinya, pabriknya sudah dijual, tetapi masih punya utang ke Bank Mandiri dan BNI Sekuritas. Saya tebus karena ingin menolong adik saya. Kemudian saya isi properti, hingga jadi seperti sekarang ini," ujarnya.

Dengan mengendarai Hanson International, Benny Tjokro merambah bisnis properti residensial. Kebutuhan lahan bagi ekspansi pabrik Batik Keris menjadi awal perkenalan keluarga besarnya pada bisnis properti.

"Setiap kali mau ekspansi, harga tanah selalu naik. Hal ini bikin pusing. Akhirnya, kami mencari cadangan tanah dulu, sehingga waktu mau ekspansi tidak diketok tetangga, dimintain harga tanah yang mahal," kata dia.

Lama-lama cadangan tanahnya menjadi terlalu banyak. "Kami mulai bingung mau diapakan. Kami pun lalu belajar membangun rumah. Setelah membangun rumah, lo kok untungnya malah lebih besar daripada dagang kain. Mulailah kerja real estat sampai sekarang," ucap Benny Tjokro.

Baca Juga: Benny Tjokro ditahan Kejagung terkait Jiwasraya, ini kata MYRX

Saat ini, Hanson International memiliki lahan luas di daerah Maja, Banten. "Ini harus menjadi kota. Kami tipikal developer yang create value, bukan yang petak lari. Petak lari semisal membangun lahan seluas 10 ha, dipetak-petakin dijual, dan terus ditinggal pergi. Biasanya real estat yang seperti itu berantakan karena sudah tidak dirawat," beber Benny Tjokro.

Karakter Benny yang berani mengambil resiko (take risk), di mata sang ayah tampak tepat menggeluti bisnis properti. Dan memang, insting Handoko Tjokrosaputro terhadap anak sulungnya kemudian terbukti.

Selain Hanson International, Benny Tjokro juga pemilik PT Rimo International Lestari Tbk (RIMO). "Saya kerjasama dengan adik dan sepupu saya," imbuh dia.




TERBARU

Close [X]
×