kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45963,73   -4,04   -0.42%
  • EMAS1.310.000 0,00%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

RI Butuh Dana US$ 200 Miliar dalam 10 Tahun untuk Pembangunan Berkelanjutan


Selasa, 22 Agustus 2023 / 17:28 WIB
RI Butuh Dana US$ 200 Miliar dalam 10 Tahun untuk Pembangunan Berkelanjutan
ILUSTRASI. Pemerintah perlu bekerja keras untuk mencapatkan opsi pembiayaan proyek pembangunan berkelanjutan


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Handoyo .

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah perlu bekerja keras untuk mencatatkan opsi pembiayaan proyek pembangunan berkelanjutan. Pasalnya dibutuhkan  sekitar US$ 200 miliar, dalam jangka waktu 10 tahun untuk memenuhi kebutuhan pembangunan berkelanjutan di Indonesia.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mencatat, untuk pembangunan pada separuh wilayah Asean Pasifik, penduduk perkotaannya membutuhkan investasi sekitar US$ 17,8 triliun untuk pembangunan tempat tinggal.

“Sementara itu, diperlukan US$ 200 miliar dalam 10 tahun ke depan untuk memenuhi kebutuhan investasi pembangunan berkelanjutan di Indonesia saja. Jadi dengan kata lain, pemerintah harus bekerja keras untuk memanfaatkan opsi pembiayaan,” tutur Sri Mulyani dalam agenda Seminar on Energy Efficient Mortgage (EEM)  Development throughout ASEAN Countries  (Targeted Participants), Selasa (22/8).

Baca Juga: Neraca Transaksi Berjalan Kuartal II-2023 Defisit, Begini Dampaknya pada Rupiah

Menurutnya untuk  memenuhi kebutuhan investasi tersbut, perlu adanya solusi yang inovatif dan upaya kolaboratif, serta belajar dari pengalaman banyak negara.

Pembiayaan inovatif dan bangunan ramah lingkungan dinilai penting untuk mentransformasi perekonomian Indonesia. “Ini termasuk sektor konstruksi bangunan yang perlu dirancang menjadi bangunan yang lebih ramah lingkungan,” jelasnya.

Adapun Sri Mulyani menyampaikan, di Kawasan ASEAN juga akan diupayakan untuk mengejar infrastruktur yang berkelanjutan didukung oleh pembentukan dana infrastruktur ASEAN (AIF). Dalam keketuaan di ASEAN 2023, Indonesia mendorong AIF menuju pendanaan yang berkonsep hijau di Kawasan.

Baca Juga: Ekonom Bank Mandiri Optimistis Pertumbuhan Ekonomi RI Capai 5,04% pada 2023

“Salah satu inisiatifnya adalah fasilitas ASEAN Catalytic Green Finance Facility (ACGF). Fasilitas Pembiayaan ramah lingkungan katalitik Asean ini telah diluncurkan di bawah dana infrastruktur Asean untuk mendukung pemerintah di Asia Tenggara,” jelasnya.

ACGF juga diinisiasi untuk mempersiapkan dan mendanai proyek infrastruktur yang mendorong kelestarian lingkungan dan berkontribusi terhadap tujuan perubahan iklim.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Negosiasi & Mediasi Penagihan yang Efektif Guna Menangani Kredit / Piutang Macet Using Psychology-Based Sales Tactic to Increase Omzet

[X]
×