kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.700.000   20.000   0,75%
  • USD/IDR 17.893   11,00   0,06%
  • IDX 6.308   -66,30   -1,04%
  • KOMPAS100 824   -11,36   -1,36%
  • LQ45 627   -6,88   -1,09%
  • ISSI 218   -2,25   -1,02%
  • IDX30 351   -3,45   -0,97%
  • IDXHIDIV20 427   -2,56   -0,60%
  • IDX80 94   -1,21   -1,26%
  • IDXV30 118   -0,71   -0,60%
  • IDXQ30 111   -0,80   -0,71%

Ramai Warga Protes Masuk Desil 10 Meski Ekonomi Pas-Pasan, Ini Penjelasan BPS


Kamis, 13 Agustus 2026 / 12:18 WIB
Ramai Warga Protes Masuk Desil 10 Meski Ekonomi Pas-Pasan, Ini Penjelasan BPS
ILUSTRASI. Logo Badan Pusat Statistik (BPS) (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Sejumlah warga ramai mempertanyakan hasil pengecekan desil pada Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). 

Keluhan tersebut muncul di media sosial Threads setelah warga mengetahui dirinya tercatat dalam desil 9 atau 10, meski merasa kondisi ekonominya tidak tergolong tinggi.

Salah satu unggahan yang ramai menunjukkan seorang pengguna mengaku masuk desil 9 meski hanya tinggal di rumah kontrakan tipe 36, memiliki satu mobil bekas, dan mengaku jarang bepergian. 

Pengguna lain juga mengaku masuk desil 10 meski rumahnya masih mengontrak dan hanya mengandalkan penghasilan suami sekitar Rp 3 juta per bulan.

Baca Juga: Pemerintah Kaji Pembatasan Pertalite untuk Masyarakat Desil 9 dan 10

Menanggapi ramainya keluhan tersebut, Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Cilegon memberikan penjelasan melalui akun Threads resminya, @bpscilegon.

BPS menjelaskan bahwa desil merupakan pembagian keluarga ke dalam 10 kelompok berdasarkan peringkat kondisi sosial ekonomi. Seluruh keluarga terlebih dahulu diurutkan, kemudian dibagi menjadi 10 kelompok dengan jumlah keluarga yang relatif sama.

"Secara gampangnya, desil itu membagi jumlah keluarga menjadi 10 bagian/kotak sama banyak," tulis BPS Cilegon, dikutip Kamis (13/8).

Dengan mekanisme tersebut, desil 1 merupakan kelompok dengan peringkat kondisi sosial ekonomi paling rendah, sedangkan desil 10 merupakan kelompok dengan peringkat paling tinggi.

BPS menegaskan bahwa penentuan desil tidak didasarkan pada batas penghasilan tertentu. Artinya, tidak ada ketentuan bahwa seseorang dengan penghasilan sekian rupiah otomatis masuk desil tertentu.

Baca Juga: Pembatasan BBM Subsidi Sasar Desil 9-10, Potensi Penghematan Subsidi Rp 17 Triliun

"Kotak-kotak inilah yang disebut desil. Jadi, dalam pengelompokan desil tidak ada cut off point. Tidak ada penghasilan sekian masuk desil x, atau aset sekian masuk desil y. Murni berdasarkan pemeringkatan/ranking keluarga," jelas BPS.

Pemeringkatan tersebut juga tidak hanya mempertimbangkan satu indikator. BPS menyebut terdapat banyak variabel yang digunakan untuk menentukan posisi suatu keluarga.

Variabel tersebut antara lain kondisi perumahan, kepemilikan aset atau barang, demografi dan pendidikan, ketenagakerjaan, kepemilikan usaha, serta kesehatan.

BPS juga menjelaskan alasan keluarga dengan kondisi ekonomi yang sangat berbeda dapat berada dalam desil yang sama.

Menurut BPS, dalam desil 10 terdapat keluarga dengan kondisi ekonomi yang beragam, mulai dari kelas menengah hingga kelompok dengan kekayaan sangat besar.

"Di desil yang sama, ada konglomerat dan ultra-rich dengan penghasilan miliaran hingga triliunan rupiah per bulan. Tapi, ada juga keluarga dengan penghasilan jutaan per bulan," tulis BPS.

Baca Juga: Pembatasan BBM Subsidi Sasar Desil 9-10, IATMI Ingatkan Tantangan Integrasi Data

Dengan demikian, berada di desil 10 tidak berarti setiap keluarga di dalamnya memiliki tingkat pendapatan atau kekayaan yang sama.

BPS menyebut perbedaan kondisi yang sangat tajam di dalam desil 10 justru menunjukkan adanya ketimpangan ekonomi yang tinggi.

"Kontras yang begitu tajam di dalam desil 10 itu sendiri menunjukkan betapa ekstremnya ketimpangan ekonomi di Indonesia," tulis BPS.

BPS juga mengingatkan bahwa pemeringkatan desil dilakukan terhadap keluarga, bukan individu. Karena itu, kondisi ekonomi satu anggota keluarga tidak dapat menjadi satu-satunya dasar untuk menentukan posisi desil keluarga tersebut.

Penjelasan BPS ini disampaikan di tengah ramainya perbincangan mengenai hasil pengecekan desil DTSEN di media sosial. Sejumlah warga mempertanyakan kesesuaian hasil tersebut dengan kondisi ekonomi yang mereka alami sehari-hari.

BPS menegaskan bahwa beredarnya tabel di media sosial yang mengaitkan nominal penghasilan tertentu dengan desil tertentu tidak tepat. 

Sebab, penentuan desil menggunakan puluhan variabel dengan bobot yang berbeda, bukan semata-mata berdasarkan pendapatan atau kepemilikan aset.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×