Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Porsi cadangan emas Bank Indonesia (BI) dinilai masih relatif rendah jika dibandingkan dengan potensi sumber daya serta porsi kepemilikan emas bank sentral di berbagai negara lain.
Fenomena dedolarisasi global dan meningkatnya risiko geopolitik seharusnya menjadi momentum bagi BI untuk mulai memperbesar porsi emas dalam struktur cadangan devisanya secara bertahap.
Chairman Indonesia Mining Institute (IMI), Irwandy Arif mengungkapkan, posisi cadangan emas bank sentral Indonesia saat ini masih tertinggal cukup jauh dari negara-negara maju maupun kawasan regional.
Padahal secara potensi tambang, Indonesia tercatat memiliki cadangan emas yang sangat melimpah hingga menembus angka 3.600 ton.
"Jadi kira-kira ini intinya bahwa cadangan emas Indonesia itu masih lebih rendah dibandingkan negara lain. Nomor satu itu Amerika Serikat 8.133 ton. Jerman, Italia, Prancis, dan China, semuanya di atas 2.000 ton. Kita sendiri itu kurang lebih 80 ton (87,1 ton). Jadi pertanyaan kenapa Indonesia cuma sekian? Kenapa Bank Indonesia cuma sekian?" ujarnya dalam acara MINDialogue, Jakarta, Rabu (12/8/2026).
Baca Juga: Pemerintah Siapkan Insentif Pajak, ETF Emas Makin Menarik bagi Investor
Irwandy menuturkan, strategi pengelolaan devisa BI selama ini lebih dominan ditempatkan pada instrumen valuta asing (valas) yang dinilai lebih likuid. Kebijakan tersebut diambil guna mempermudah intervensi pasar saat dibutuhkan, mengingat posisi total cadangan devisa nasional yang masih terbatas di kisaran US$ 146 miliar atau setara 5,5 bulan impor.
"Jadi rupanya, strategi Bank Indonesia itu lebih berorientasi pada cadangan valuta asing. Kenapa? Karena ada kemungkinan untuk bisa mendrop sesuatu kalau terjadi apa-apa dengan valuta asing itu. Jadi, cadangan terutama ditempatkan pada aset yang liquid. Dan dapat digunakan langsung untuk intervensi pasar valutasi," kata Irwandy menjelaskan alasan di balik rendahnya porsi emas tersebut.
Di samping itu, lanjut dia, pertimbangan opportunity cost juga menjadi alasan BI kurang agresif memupuk emas, sebab emas tidak memberikan imbal hasil berupa bunga layaknya instrumen valas.
Namun, Irwandy mengingatkan bahwa emas memiliki fungsi lindung nilai dari kenaikan harga (capital gain) serta menjadi sarana diversifikasi di tengah tren dedolarisasi global.
Baca Juga: Bank Sentral Global Borong 244 Ton Emas Kuartal I-2026, Bank Indonesia Beli 2 Ton
"Contohnya Rusia, China, India, Turki, Polandia, itu mengarah kepada memperbesar cadangan emasnya di bank sentralnya. Kenapa? Karena belajar dari sanksi Rusia pada tahun 2022, ada risiko geopolitik, ada pembekuan aset, ada ketergantungan terhadap mata uang cadangan tertentu, sehingga mereka menambah cadangan emasnya," tuturnya.
Lebih lanjut, Irwandy menambahkan, para ahli menyarankan agar bank sentral mulai mengalokasikan sebagian dari hasil produksi emas nasional untuk memperkuat cadangan devisa negara.
Menurutnya, langkah menyisihkan sebagian produksi dalam negeri dianggap sebagai strategi paling realistis untuk menambah portofolio emas nasional tanpa harus mengganggu stabilitas likuiditas valas yang ada.
"Misalnya kalau kita produksi 100 ton, maka Bank Indonesia itu menambah 20 ton. Tapi tergantung bagaimana kebijakan di Bank Indonesia internal sendiri. Jadi memang kita lihat ini bukan satu masalah yang gampang. Jadi, memang ini saya sendiri pada waktu FGD yang lalu mengusulkan supaya Bank Indonesia itu tetap menambah, karena terjadi fenomena dedolarisasi," pungkasnya.
Baca Juga: Prabowo Dapat Laporan Penemuan Emas dan Mineral Jumlah Besar di Pegunungan Papua
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
