kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.859.000   40.000   1,42%
  • USD/IDR 17.535   104,00   0,60%
  • IDX 6.859   -46,72   -0,68%
  • KOMPAS100 916   0,38   0,04%
  • LQ45 670   1,21   0,18%
  • ISSI 248   -2,34   -0,93%
  • IDX30 377   0,90   0,24%
  • IDXHIDIV20 461   -0,72   -0,16%
  • IDX80 104   0,22   0,22%
  • IDXV30 132   0,58   0,44%
  • IDXQ30 120   -0,91   -0,75%

Pengamat: Danantara Perlu Bantu Benahi BUMN yang Sakit, Bukan Hanya Cari Investor


Senin, 05 Mei 2025 / 13:35 WIB
Pengamat: Danantara Perlu Bantu Benahi BUMN yang Sakit, Bukan Hanya Cari Investor
ILUSTRASI. Gedung kantor Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau BPI Danantara di kawasan Cikini, Jakarta (24/2/2025). Foto KONTAN/Adrianus Octaviano


Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pengamat BUMN dari NEXT Indonesia Herry Gunawan menilai Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) tidak cukup hanya fokus mencari investor, tetapi juga perlu turun tangan membenahi perusahaan BUMN yang masih sakit.

Herry menegaskan, upaya pembenahan dan pencarian investor seharusnya dilakukan secara paralel. Pasalnya, sejumlah BUMN masih mencatatkan kerugian dan membutuhkan solusi struktural yang menyeluruh.

Baca Juga: Prabowo Mau Bangun Kampung Haji di Mekah, Danantara jadi Solusi?

“BUMN yang sakit sebaiknya dimasukkan ke dalam 'klinik'. Perlu ada restrukturisasi besar-besaran, baik dari sisi kewajiban maupun model bisnisnya. Kasus BUMN karya misalnya, banyak yang tumpang tindih, seperti dulu kita punya Telkom dan Indosat,” ujar Herry kepada Kontan.co.id, Senin (5/5).

Ia menambahkan, proses perbaikan BUMN semestinya bisa dilakukan secara fleksibel karena entitas tersebut telah menjadi lembaga privat dan bukan lagi kekayaan negara yang dipisahkan. Dengan demikian, perundingan restrukturisasi bisa dilakukan secara business to business (B2B).

“Apalagi jika Danantara bisa berperan sebagai penjamin restrukturisasi, tentu membuat investor maupun kreditur merasa lebih nyaman karena statusnya sebagai pemilik sekaligus pengelola BUMN,” kata Herry.

Baca Juga: Masuk Danantara, PT Berdikari Dorong Aset Menjadi Lebih Produktif di Sektor Pangan

Herry juga menyoroti dua hal yang belum terlihat jelas dari Danantara. Pertama, bagaimana strategi pengelolaan terhadap BUMN yang telah berada di bawah naungannya, termasuk arah holdingisasi.

“Contohnya kehadiran Agrinas yang tumpang tindih, di satu sisi dengan Bulog, di sisi lain dengan PTPN. Ini perlu ditata,” ujarnya.

Kedua, hingga kini belum ada skenario yang jelas terkait strategi investasi Danantara. “Apakah mereka akan bergerak sendiri atau menggandeng mitra strategis, itu belum tampak,” tambah Herry.

Sebelumnya, CEO Danantara Rosan P. Roeslani menyampaikan bahwa pengelolaan ratusan entitas BUMN telah resmi dialihkan ke Danantara sejak 21 Maret 2025.

Baca Juga: PNBP Turun 22,6% di Maret 2025, Kemenkeu Akui Danantara Salah Satu Penyebabnya

Hal ini didasarkan pada Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 15 Tahun 2025 mengenai Penambahan Penyertaan Modal Negara ke PT Biro Klasifikasi Indonesia untuk pendirian holding operasional.

“Jadi anak, cucu, cicit BUMN, totalnya ada 844 perusahaan. Semuanya sudah resmi berada di bawah kepemilikan Danantara sejak 21 Maret lalu,” jelas Rosan dalam acara Town Hall Danantara Indonesia di Jakarta, Senin (28/4).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×