kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.774.000   0   0,00%
  • USD/IDR 18.000   153,00   0,86%
  • IDX 5.941   -254,36   -4,11%
  • KOMPAS100 785   -38,94   -4,72%
  • LQ45 589   -30,28   -4,89%
  • ISSI 206   -8,52   -3,97%
  • IDX30 334   -15,73   -4,50%
  • IDXHIDIV20 412   -15,89   -3,71%
  • IDX80 89   -4,83   -5,16%
  • IDXV30 113   -4,09   -3,48%
  • IDXQ30 108   -4,46   -3,97%

Pemerintah harus hati-hati dengan defisit transaksi berjalan


Rabu, 15 Agustus 2018 / 16:13 WIB
ILUSTRASI. Petugas Merapikan Mata Uang Rupiah


Reporter: Michelle Clysia Sabandar | Editor: Narita Indrastiti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar finansial negara berkembang termasuk Indonesia sejak awal pekan ini tertekan. Penguatan dollar Amerika Serikat (AS) serta krisis mata uang Turki, Lira membuat rupiah serta IHSG mengalami koreksi.

Sejak awal tahun, rupiah dicatatkan telah melemah sebesar 7,59% terhadap dollar AS. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi 1,73% , dan ditutup pada level 5.769,88, Selasa (14/8). Sementara, tingkat imbal hasil obligasi pemerintah (SUN) untuk seri acuan 10 tahun telah menembus level psikologis 8%.

Budi Hikmat, Direktur Strategi dan Kepala Makro Ekonomi PT Bahana TCW Investment Management mengatakan, pemerintah Indonesia harus berhati-hati dengan defisit transaksi berjalan yang telah menembus angka 3% terhadap Pertumbuhan Domestik Bruto (PDB).

"Ini menjadi alarm untuk Indonesia, agar kembali mengaktifkan mesin pendulang valas. Jika tidak, CAD akan terus tertekan,” katanya.

Indonesia sendiri masih bergantung dengan eskpor komoditas seperti batubara dan migas. Sementara ekspor non migas turun di tengah kenaikan harga impor bahan baku dan barang modal.

Defisit pada neraca migas disebabkan impor migas, seiring kenaikan harga minyak global dan permintaan minyak yang lebih tinggi selama lebaran dan liburan sekolah lalu. Budi menilai, untuk menekan defisit transaksi berjalan, dalam pekan ini pemerintah harus mengumumkan sejumlah langkah guna mengendalikan impor seperti barang yang di konsumsi, bahan baku dan barang modal.

Di sisi lain, Bahana mengapresiasi positif langkah yang dilakukan pemerintah untuk memperbaiki neraca pembayaran.“Pemerintah harus mempercepat upaya untuk memanfaatkan penguatan dollar dan kenaikan harga energi minyak baik melalui kebijakan substitusi energi (B20 biodiesel) dan memacu pariwisata dan manufaktur yang bisa menghasilkan devisa bagi negara,” papar Budi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×