kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.792.000   16.000   0,90%
  • USD/IDR 16.565   0,00   0,00%
  • IDX 6.511   38,26   0,59%
  • KOMPAS100 929   5,57   0,60%
  • LQ45 735   3,38   0,46%
  • ISSI 201   1,06   0,53%
  • IDX30 387   1,61   0,42%
  • IDXHIDIV20 468   2,62   0,56%
  • IDX80 105   0,58   0,56%
  • IDXV30 111   0,69   0,62%
  • IDXQ30 127   0,73   0,58%

Pemerintah Hadapi Risiko Pengetatan Likuiditas Domestik


Selasa, 03 Desember 2024 / 17:38 WIB
Pemerintah Hadapi Risiko Pengetatan Likuiditas Domestik
ILUSTRASI. Petugas memeriksa tumpukan uang kertas di Cash Center Bank BNI, Jakarta, Selasa (17/12). Pemerintah dihadapkan pada tantangan besar dalam menyusun strategi pembiayaan utang di tengah risiko pengetatan likuiditas domestik.


Reporter: Adinda Ade Mustami, Dendi Siswanto | Editor: Noverius Laoli

Myrdal juga menekankan potensi penerbitan obligasi hijau atau green bonds sebagai langkah strategis yang dapat mendongkrak pembiayaan pemerintah. 

Selain itu, ia berharap pemerintah juga memperluas penerbitan obligasi berbasis syariah, dengan pasar yang lebih luas tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di negara-negara dengan pasar syariah yang besar seperti Malaysia dan Timur Tengah.

Lebih lanjut, Myrdal berharap penerbitan obligasi global, seperti obligasi samurai yang berbasis Yen, akan tetap dilanjutkan pada tahun depan. 

Baca Juga: BI Pastikan Stok Dolar AS di Dalam Negeri Aman untuk Jaga Stabilitas Rupiah

Myrdal juga optimis terhadap prospek penerbitan obligasi pemerintah, meskipun ada potensi tekanan dari faktor global, terutama perang dagang. Namun, dia meyakini bahwa aktivitas ekonomi Indonesia yang berbasis domestik akan tetap mendukung pertumbuhan yang positif. 

"Jangan lupa tahun depan itu kita masih berharap akan ada ruang penurunan suku bunga," katanya.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengakui bahwa pemerintah juga tetap menjaga arus keuangan dalam negeri melalui penerbitan utang secara reguler setiap dua minggu melalui mekanisme lelang.

"Di dalam negeri kita mengissue utang setiap dua minggu, itu reguler lelang. Reguler lelang yang kita lakukan setiap dua minggu kita liat apatite dan volumenya," kata Sri Mulyani belum lama ini. 

Baca Juga: Beban Utang Luar Negeri Pemerintah Meningkat, Ini Pemicunya

Sri Mulyani juga menekankan bahwa stabilitas dan kredibilitas APBN menjadi kunci dalam mempertahankan minat pasar terhadap instrumen utang negara.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Survei KG Media

TERBARU
Kontan Academy
Supply Chain Management on Procurement Economies of Scale (SCMPES) Brush and Beyond

[X]
×