kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

LPEM UI menilai BI masih perlu pangkas suku bunga acuan, ini alasannya


Kamis, 24 Oktober 2019 / 09:34 WIB
LPEM UI menilai BI masih perlu pangkas suku bunga acuan, ini alasannya
ILUSTRASI. Ilustrasi konferensi pers hasil RDG Bank Indonesia.

Reporter: Bidara Pink | Editor: Herlina Kartika

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) melihat bahwa Bank Indonesia (BI) perlu untuk kembali menurunkan suku bunga acuan pada bulan Oktober 2019.

"BI perlu menurunkan sebesar 25 basis poin (bps) lagi pada bulan ini," kata tim riset LPEM FEB UI dalam rilis analisis makroekonomi tentang rapat dewan gubernur (RDG) BI Oktober 2019.

Hal ini dengan mempertimbangkan tingkat inflasi yang masih terkendali, bersamaan dengan turunnya komponen harga barang bergejolak.

Selain itu, LPEM juga melihat adanya perbaikan neraca perdagangan yang menggambarkan prospek defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) yang menyempit di kuartal III-2019.

Baca Juga: Proyeksi IHSG: Bergantung Rapat BI

LPEM UI memprediksi kondisi CAD pada kuartal ini adalah sebesar 2,1% dari PDB. Membaik dari kuartal sebelumnya yang mencapai 3% dari PDB.

Kondisi perbaikan CAD ini nantinya juga akan membawa pengaruh baik, yaitu pengurangan risiko depresiasi rupiah dalam waktu dekat. Ini juga menyebabkan terbuka lebarnya gerbang untuk arus masuk investasi portofolio karena masih besarnya selisih imbal hasil.

Selain itu, pelonggaran moneter ini juga bisa dilakukan sebagai langkah pre-emptive karena bank sentral Amerika Serikat (AS) juga memiliki kecenderungan untuk juga melakukan pelonggaran. 

Hal ini disebabkan oleh ketidakpastian ekonomi global yang masih berlanjut.

"Masih ada kekhawatiran perlambatan akibat perang dagang dan juga Brexit," tambah tim riset LPEM UI.

Penurunan suku bunga yang dilakukan oleh BI, dipandang LPEM UI juga sebagai langkah untuk meningkatkan daya tarik pasar keuangan Indonesia. 
Ini terlihat dari kondisi arus modal yang masuk setelah penurunan suku bunga tiga kali.

Besarnya arus modal masuk portofolio sepanjang bulan Januari hingga Oktober 2019 juga tercermin dari menurunnya imbal hasil obligasi pemerintah 10-tahun dan 1-tahun ke tingkat 7,3% dan 5,9% ada bulan Oktober.

Baca Juga: Ekonom BCA sebut BI berpeluang turunkan suku bunga acuan hingga 50 bps

Pencapaian tersebut kemudian membawa imbal hasil riil yang ditawarkan oleh pasar obligasi Indonesia menjadi salah satu yang paling menarik di Asia. Hal tersebut tidak dapat dicapai tanpa

Untuk semakin memaksimalkan pelonggaran moneter tersebut, LPEM UI mengimbau agar pemerintah juga mengimbangi dengan memberikan stimulus fiskal.

 



Video Pilihan

TERBARU

Close [X]
×