Reporter: Siti Masitoh | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Indeks Harga Konsumen (IHK) diperkirakan mengalami kenaikaln inflasi pada Februari 2026.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede memperkirakan, inflasi Februari 2026 akan meningkat menjadi 4,47% year on year (yoy), dari bulan sebelumnya yang mencapai 3,55% yoy.
“Lonjakan inflasi tahunan ini terutama dipicu efek basis rendah/low base effect, karena pada Februari 2025 terjadi tekanan disinflasi bahkan deflasi tahunan akibat diskon tarif listrik, sehingga pembandingnya sangat rendah dan membuat inflasi tahunan tahun ini tampak melonjak,” tutur Josua kepada Kontan, Minggu (1/3/2026).
Sementara irtu, secara bulanan inflasi diperkirakan relatif tinggi sekitar 0,41% month to month (mtm) setelah Januari 2026 tercatat deflasi bulanan, sejalan dengan dorongan permintaan musiman Ramadan yang tahun ini jatuh di Februari (tahun lalu lebih banyak terjadi di Maret).
Baca Juga: Efek Ramadan, Inflasi Tahunan Diperkirakan Melonjak ke 4,54% di Februari 2026
Pada saat yang sama, Josua memperkirakan inflasi inti diperkirakan relatif stabil di kisaran 2,50% sehingga tekanan harga yang lebih persisten masih tergolong terkendali.
Lebih rinci, Josua membeberkan, pendorong utama inflasi Februari 2026 antara lain, pertama, efek basis rendah dari diskon tarif listrik tahun lalu yang membuat inflasi tahunan tahun ini terlihat melonjak.
Kedua, peningkatan permintaan selama Ramadan yang biasanya mendorong harga makanan-minuman, layanan makan minum, serta berbagai kebutuhan terkait aktivitas keagamaan.
Ketiga, kelompok harga bergejolak yang diperkirakan naik terutama pada komoditas pangan seperti daging ayam dan aneka cabai, meski sebagian tertahan oleh pasokan hortikultura tertentu seperti bawang merah saat musim panen.
Keempat, kelompok harga yang diatur pemerintah yang cenderung meningkat meskipun harga bahan bakar nonsubsidi menurun, karena ada penyesuaian tarif PDAM dan kenaikan tarif angkutan udara maupun darat pada periode puncak.
Baca Juga: Timur Tengah Memanas, Apindo: Waspadai Lonjakan Biaya Dagang dan Inflasi Barang Impor
Kelima, kenaikan harga emas yang ikut menekan inflasi inti. Josua membeberkan, di luar faktor domestik, ketidakpastian global juga tetap menjadi sumber risiko melalui jalur nilai tukar dan harga energi, meski dampaknya sangat bergantung pada stabilitas pasar keuangan dan pasokan energi global.
Adapun meski inflasi melonjak, Josua menilai kondisi inflasi seperti ini tidak otomatis berbahaya, karena kenaikan tajam pada angka tahunan lebih banyak bersifat teknis dan musiman, bukan semata mencerminkan ekonomi yang overheating.
Namun ia mengingatkan, inflasi yang berada di atas sasaran Bank Indonesia untuk beberapa bulan tersebut tetap perlu diwaspadai karena bisa menggerus daya beli, menaikkan biaya operasional usaha, dan menahan ruang pelonggaran suku bunga bila ekspektasi inflasi ikut naik.
“Risiko menjadi lebih serius bila tekanan harga menyebar luas dan bertahan lama, misalnya jika kenaikan harga pangan berlanjut akibat gangguan pasokan, atau jika pelemahan nilai tukar memicu kenaikan harga barang impor dan energi,” ungkapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













