Reporter: Nurtiandriyani Simamora, Siti Masitoh | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tekanan inflasi kembali membayangi perekonomian Indonesia. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan pada Februari 2026 mencapai 4,76%, meningkat tajam dibandingkan Januari 2026 yang sebesar 3,55% (year on year).
Capaian tersebut menjadi inflasi tahunan tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Sebelumnya, inflasi tercatat 4,97% pada Maret 2023 dan sempat menyentuh 5,95% pada September 2022, menandakan tekanan harga kembali menguat.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menjelaskan, lonjakan inflasi terutama didorong oleh kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga yang mengalami inflasi 16,19% secara tahunan.
Baca Juga: Jelang Ramadan dan Lebaran, Pemerintah dan BI Jaga Inflasi Di Level 2,5±1% Tahun Ini
Kelompok ini menyumbang andil inflasi sebesar 2,26%.
“Komoditas dengan andil terbesar adalah tarif listrik,” ujar Ateng dalam konferensi pers, Senin (2/3/2026).
BPS juga mencatat adanya low base effect akibat diskon tarif listrik pada awal 2025, sehingga basis pembanding menjadi relatif rendah.
Namun, di luar faktor statistik tersebut, tekanan harga dinilai masih kuat.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira Adhinegara memperkirakan inflasi akan bertahan di kisaran 4%–5,5% hingga Juni–Juli 2026. “Tekanan harga belum akan mereda dalam waktu dekat,” kata Bhima.
Baca Juga: Inflasi Diperkirakan Bertahan Di Level Tinggi hingga Maret 2026, Ini Penyebabnya
Ia menyoroti inflasi pangan bergejolak yang mencapai 4,01% secara tahunan. Selain faktor cuaca dan musiman Ramadan, Bhima menilai program makan bergizi gratis (MBG) turut mendorong kenaikan harga di sejumlah daerah.
“Kami melihat di daerah dengan jumlah SPPG terbanyak terjadi kenaikan harga ayam, beras, telur, dan sayuran. Ada perebutan stok di tingkat produsen antara kebutuhan dapur MBG dan pedagang eceran,” jelasnya.
Situasi ini berpotensi menekan daya beli, khususnya kelompok kelas menengah dan aspiring middle class, mengingat porsi belanja pangan masih menyerap bagian besar dari pengeluaran rumah tangga.
Risiko inflasi juga datang dari faktor eksternal. Bhima menilai meluasnya perang Iran dengan Israel dan Amerika Serikat berpotensi mendorong kenaikan harga energi global.
Baca Juga: Harga Emas Melesat, Masih Buka Peluang Bertahan di Level Tinggi pada 2026
Dampaknya, biaya produksi listrik bisa meningkat meski terdapat kebijakan DMO batubara, karena ongkos logistik pengiriman ke PLTU ikut terdampak.
Di tengah keterbatasan ruang fiskal, subsidi energi dinilai tidak sepenuhnya mampu menahan kenaikan biaya. Akibatnya, harga kebutuhan pokok berisiko semakin mahal.
Dalam kondisi tersebut, kebijakan moneter berpeluang menjadi lebih ketat. “Suku bunga bisa kembali berbalik naik untuk menahan pelemahan kurs rupiah dan mengendalikan inflasi,” papar Bhima.
Di sisi lain, Bank Indonesia menegaskan komitmennya menjaga stabilitas harga, terutama pada komponen volatile food.
Baca Juga: Meski Inflasi Tinggi, BI Melihat Peluang Pemangkasan Bunga Acuan Tetap Ada
Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi Moneter (DKEM) BI Firman Mochtar menyatakan, pengendalian inflasi pangan tidak hanya penting untuk stabilitas harga, tetapi juga krusial dalam menjaga daya beli masyarakat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













