kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.027.000   167.000   5,84%
  • USD/IDR 16.805   20,00   0,12%
  • IDX 7.923   -406,88   -4,88%
  • KOMPAS100 1.108   -57,53   -4,94%
  • LQ45 806   -27,29   -3,27%
  • ISSI 278   -19,24   -6,46%
  • IDX30 421   -8,88   -2,07%
  • IDXHIDIV20 505   -4,36   -0,85%
  • IDX80 123   -5,79   -4,48%
  • IDXV30 135   -3,57   -2,57%
  • IDXQ30 137   -1,44   -1,04%

Inflasi Diperkirakan Bertahan Di Level Tinggi hingga Maret 2026, Ini Penyebabnya


Senin, 02 Februari 2026 / 16:32 WIB
Inflasi Diperkirakan Bertahan Di Level Tinggi hingga Maret 2026, Ini Penyebabnya
ILUSTRASI. Indeks Harga Konsumen Banten November 2025 (ANTARA FOTO/Angga Budhiyanto) Inflasi tahunan pada dua bulan mendatang atau Februari dan Maret 2026 diperkirakan masih berada di level tinggi.


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Inflasi tahunan pada dua bulan mendatang atau Februari dan Maret 2026 diperkirakan masih berada di level tinggi.

Sebagaimana diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, Indeks Harga Konsumen (IHK) mencatatkan inflasi tahunan sebesar 3,55% year on year (YoY) pada Januari 2026. Inflasi ini tercatat meningkat dari Desember 2025 yang mencapai 2,92% YoY.

Head of Macroeconomic and Financial Market Research Permata Bank, Faisal Rachman menilai, inflasi tahunan diperkirakan akan tetap tinggi untuk sementara di atas 3% pada kuartal I 2026.

Perkiraan tersebut didorong oleh dampak cuaca ekstrem terhadap harga pangan, permintaan musiman selama bulan Ramadhan dan Idul Fitri, harga emas yang lebih tinggi di tengah ketidakpastian global yang terus berlanjut.

Baca Juga: Polri Sebut Pemulangan Riza Chalid Membutuhkan Proses dan Waktu Panjang

“Dan low base effect yang berasal dari terkendalinya inflasi pada kuartal I 2025 karena diskon tarif listrik,” tutur Faisal dalam keterangannya, Senin (2/2/2026).

Meski demikian, Faisal memperkirakan inflasi tahunan akan kembali turun di bawah 3% pada akhir tahun 2026, atau kembali berada dalam kisaran target Bank Indonesia (BI) yakni 2,5% plus minus 1%, terutama pada semester kedua 2026.

Adapun untuk tahun ini, Faisal melihat tekanan inflasi diperkirakan berasal dari kebijakan fiskal dan moneter yang ekspansif, yang kemungkinan akan meningkatkan likuiditas dan memicu inflasi yang disebabkan oleh permintaan.

Selain itu, program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sedang berlangsung juga diperkirakan akan menjaga permintaan pangan tetap tinggi, sehingga menimbulkan risiko terhadap inflasi harga yang berfluktuasi.

“Hal yang menggembirakan adalah tekanan-tekanan ini kemungkinan akan tetap terkendali, mengingat kesenjangan output Indonesia yang negatif. Oleh karena itu, kami memperkirakan inflasi tidak akan melebihi 3% secara berkelanjutan pada tahun 2026,” ungkapnya.

Faisal menambahkan, risiko inflasi eksternal masih tetap ada, meskipun ketegangan geopolitik dan perselisihan perdagangan saat ini telah mereda. Faktor-faktor ini lanjutnya, kemungkinan terus mempengaruhi stabilitas rupiah, yang berimplikasi pada inflasi impor.

Selain itu, ketidakpastian global yang terus berlanjut juga dinilai akan membuat harga emas tetap tinggi dan menambah tekanan inflasi.

“Meskipun demikian, potensi penurunan suku bunga The Fed pada tahun 2026 masih masuk akal, yang akan membantu memitigasi risiko depresiasi Rupiah dan menahan sebagian inflasi impor,” tambahnya.

Secara keseluruhan, Faisal memproyeksikan inflasi umum akan mencapai sekitar 2,72% pada akhir tahun 2026, dan masih berada dalam kisaran target pemerintah.

Dalam kesempatan berbeda, Ekonom Bank Danamon Hosianna Evalita Situmorang juga sepakat, peningkatan inflasi akan terus berlanjut hingga Maret 2026, seiring meningkatnya permintaan pangan yang terjadi menjelang Idul Fitri, dan berlanjutnya bias dari diskon tagihan listrik pada kuartal I 2025.

“Secara tahunan Ada potensi masih di kisaran 3,5% sampai 4% mengingat low base effect tahun lalu akibat diskon listrik,” kata Hosianna.

Baca Juga: BPS Prediksi Produksi Beras pada Kuartal I-2026 Meningkat Capai 10,16 Juta Ton

Selanjutnya: India Jajaki Integrasi UPI dengan Alipay+ untuk Transaksi Lintas Negara

Menarik Dibaca: 320.365 Tiket KA Lebaran Terjual, Pelanggan Diminta Rencanakan Perjalanan Sejak Dini

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
SPT Tahunan PPh Coretax: Mitigasi, Tips dan Kertas Kerja Investing From Zero

[X]
×