Reporter: Lailatul Anisah | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Serikat Petani Indonesia (SPI) membeberkan alasan kedelai sulit mencapai swasembada. Diketahui, saat ini produksi kedelai nasional di Indonesia rata-rata hanya mencapai 200.000 ton, sangat kecil dengan kebutuhan nasional yang setiap tahunnya mencapai 2.74 juta ton.
Kepala Badan Perbenihan Nasional dan Pusat Pengkajian dan Penerapan Agroekologi Serikat Petani Indonesia (SPI), Khusnan menyebut rendahnya produktivitas kedelai dipicu banyak hal, salah satunya terkait kepastian pasar.
Dirinya menyebut petani enggan menanam kedelai karena harganya sering kali kalah bersaing dengan kedelai impor yang dianggap lebih murah dan memiliki ukuran lebih besar.
Baca Juga: Pemerintah Kebut KPBU, 36 Proyek Senilai Rp 300 Triliun Telah Ditandatangani
"Tanpa kepastian off taker dengan harga yang menguntungkan, menanam kedelai dianggap berisiko tinggi secara finansial," terang Khusnan pada Kontan.co.id, Rabu (9/9/2026).
Di sisi lain, SPI juga menyoroti minimnya insentif terhadap petani kedelai. Dia menyebut bahwa margin keuntungan kedelai lokal relatif lebih kecil jika dibandingkan dengan komoditas pangan strategis lainnya seperti padi dan jagung.
"Akses petani terhadap benih bersertifikat dengan daya kecambah tinggi juga kerap terbatas saat musim tanam tiba," tegasnya.
SPI jug menyoroti kedelai menjadi komoditas pangan yang rentan terhadap hama. Sehingga hal ini menjadi pertimbangan petani enggan menanam kedelai.
Walau demikian, SPI menilai produktivitas kedelai tetap bisa digenjot selama pemerintah memberikan jaminan pasar dengan harga yang lebih bersaing.
Baca Juga: Warga Usia 17 Tahun Bakal Dapat Rekening Bank dan Saldo Rp 50.000
Menurutnya, pemerintah bisa menetapkan kebijakan Harga Acuan Pembelian (HAP) yang layak bagi petani. Selain itu, pemerintah juga bisa memperkuat peran BUMN Pangan untuk menjamin penyaluran dan menjadi pembeli pasti.
"Ini bisa melindungi petani dari gempuran harga impor," jelasnya.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan menilai anjloknya produktivitas kedelai dalam negeri karena bibit yang kurang memadai.
Zulhas mengatakan, apabila Indonesia menanam kedelai dengan bibit dari dalam negeri, maka produksinya dalam satu hektar hanya mencapai satu ton.
Sedangkan negara maju lain yang menggunakan benih rekayasa genetik dalam satu hektare bisa menghasilkan 10 ton kedelai.
"Jadi, kalau kita tanam kedelai kita itu, harga kita bisa tiga hingga empat kali lipat gitu. Ah itu yang enggak sanggup, enggak bisa beli tuh, enggak makan tempe kita kalau begitu," sambung Zulhas.
Oleh karena itu, pemerintah tengah berusaha membenahi satu per satu komoditas pangan yang masih sangat bergantung dengan impor.
Zulhas bilang, Indonesia sudah berhasil swasembada beras dan jagung. Kemudian, komoditas yang akan diperjuangkan swasembada selanjutnya adalah kedelai, gula, garam, dan ikan.
"Daging belakangan, enggak mudah juga daging. Tapi, kalau ikan kita bisa," jelas Zulhas.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














