kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.781.000   -38.000   -2,09%
  • USD/IDR 16.565   165,00   0,99%
  • IDX 6.511   38,26   0,59%
  • KOMPAS100 929   5,57   0,60%
  • LQ45 735   3,38   0,46%
  • ISSI 201   1,06   0,53%
  • IDX30 387   1,61   0,42%
  • IDXHIDIV20 468   2,62   0,56%
  • IDX80 105   0,58   0,56%
  • IDXV30 111   0,69   0,62%
  • IDXQ30 127   0,73   0,58%

Indef: Beban bunga utang pemerintah diprediksi semakin meningkat ke depannya


Minggu, 19 April 2020 / 14:24 WIB
Indef: Beban bunga utang pemerintah diprediksi semakin meningkat ke depannya
ILUSTRASI. Indef sebut beban bunga utang pemerintah diprediksi semakin meningkat ke depannya


Reporter: Rahma Anjaeni | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sampai dengan Maret 2020, pemerintah telah membelanjakan sebesar Rp 134,9 triliun untuk belanja non-Kementerian/Lembaga (K/L). Jumlah tersebut setara dengan 17,4% dari pagu (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) APBN 2020 senilai Rp 773,9 triliun.

Belanja non-K/L pada periode ini tumbuh sebesar 2,2% dari realisasi tahun lalu sebesar Rp 132 triliun. Untuk belanja non-K/L sendiri, ditunjang oleh pembayaran bunga utang dan juga belanja subsidi.

Baca Juga: Penerimaan negara bukan pajak mencapai Rp 95,9 triliun, disokong dividen bank BUMN

Adapun realisasi pembayaran bunga utang pemerintah pada periode Januari-Maret 2020 mencapai Rp73,84 triliun, di mana telah memenuhi 25% dari pagu APBN 2020 sebesar Rp 295,2 triliun. Bila diteliti, capaian ini tumbuh 4,6% dari realisasi pada periode yang sama di tahun sebelumnya senilai Rp 70,6 triliun.

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Riza Annisa Pujarama mengatakan, beban bunga utang pemerintah ke depannya sangat mungkin akan mengalami peningkatan seiring dengan bertambahnya utang yang dilakukan oleh pemerintah.

Terlebih, kebutuhan pemerintah untuk menanggulangi dampak wabah virus Corona, membuat defisit APBN tahun ini diperkirakan akan mencapai 5,7% dari produk domestik bruto (PDB).

"Dengan defisit yang diperkirakan hingga 5%, maka jelas beban bunga utang akan meningkat. Apalagi dengan penambahan beban bunga utang baru ditambah beban bunga utang lama, pasti akan meningkat," ujar Riza kepada Kontan.co.id, Minggu (19/4).

Untuk persentase peningkatan bunga utang ini, kata Riza, perlu dilihat terlebih dahulu berapa besaran utang baru yang ditarik oleh pemerintah dan berapa pula yield (imbal hasil)-nya. Dari situ baru bisa diketahui berapa banyak bunga utang akan meningkat.

Baca Juga: Kuartal I 2020, Penerimaan cukai tumbuh 36,5% karena pembayaran pita cukai naik

Tak hanya itu, risiko penambahan beban bunga utang juga akan disebabkan oleh adanya pelemahan nilai tukar rupiah. Menurut Riza, jika rupiah masih terus terdepresiasi maka beban bunga utang dan utangnya sendiri berpotensi meningkat.

"Saya rasa pembayaran bunga utang akan diupayakan mencapai target tahun ini, karena beban bunga utang sangat kecil kemungkinannya untuk dilakukan reschedule pembayaran. Apabila bunga utang di-reschedule akan berpengaruh pada kredibilitas," kata Riza.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Survei KG Media

TERBARU
Kontan Academy
Supply Chain Management on Procurement Economies of Scale (SCMPES) Brush and Beyond

[X]
×