kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45895,84   4,26   0.48%
  • EMAS1.325.000 0,00%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Hindari Pelemahan Ekspor, Pemerintah Bidik Negara Tujuan Ekspor Non Tradisional


Minggu, 18 Februari 2024 / 19:33 WIB
Hindari Pelemahan Ekspor, Pemerintah Bidik Negara Tujuan Ekspor Non Tradisional
ILUSTRASI. Bongkar muat petikemas di pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (1/2/2024). Hindari Pelemahan Ekspor, Pemerintah Bidik Negara Tujuan Ekspor Non Tradisional.


Reporter: Bidara Pink | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Beberapa negara mitra dagang Indonesia telah resmi mauk ke jurang resesi, dengan pertumbuhan negatif dua kuartal berturut-turut. 

Sebut saja Jepang. Negara Matahari Terbit mencatat pertumbuhan kuartal IV-2023 turun 0,4% yoy. Ini melanjutkan penurunan 3,3% yoy pada kuartal sebelumnya. 

Sedangkan ekonomi Inggris pada tiga bulan terakhir 2023 turun 0,3% yoy, bahkan lebih dalam dari penyusutan 0,1% yoy pada kuartal III-2023. 

Baca Juga: Resesi Negara Mitra, Indonesia Wajib Waspada

Sebenarnya, gonjang-ganjing perekonomian negara mitra maupun perlambatan ekonomi global juga sudah masuk ada pemerintah. 

Saat ditemui Kontan.co.id dalam sebuah acara di Jakarta beberapa waktu lalu, Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Suswijono mengungkapkan pemerintah telah memetakan potensi penurunan ekspor ke depan. 

Dengan demikian, pemerintah berupaya sigap mengambil aksi terkait ini. Salah satunya, dengan memetakan diversifikasi negara tujuan ekspor di luar negara tradisional. 

“Karena trennya ekonomi global akan melambat, perdagangan global juga akan menurun. Harus ada upaya ekstra untuk mengejar ekspor,” terang Susiwijono, kala itu. 

Baca Juga: Kalau Ada Program B100, Minimal Butuh Pasokan CPO 36 Juta Ton Per Tahun

Asal tahu saja, selama ini beberapa negara tujuan ekspor utama Indonesia atau negara tujuan ekspor tradisional adalah China, Amerika Serikat (AS), Jepang, Singapura, juga Korea Selatan. 

Nah, dari hasil diskusi dengan dunia usaha, Susiwijono bilang sudah ada setidaknya 12 negara non tradisional potensial, seperti negara-negara di Amerika Latin, Afrika, Asia Selatan, juga Timur Tengah. 

Selain itu, pemerintah juga bertekad untuk menggali lebih dalam kerja sama perdagangan yang sudah dijalin oleh Indonesia, seperti perjanjian komprehensif dan progresif untuk kemitraan Trans-Pasifik (CPTPP). 

Baca Juga: Astra Agro Lestri (AALI) Berharap Harga CPO Bisa Capai US$ 1.200 Per Ton

Kemudian, Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP), hingga kerja sama yang aktif dengan negara-negara anggota OECD. 

“Jadi, kami petakan mana saja yang bisa kami jangkau untuk menjadi pasar ekspor kita,” tambah Susiwijono. 

Ini juga selaras dengan terbentuknya Satuan Tugas (Satgas) Peningkatan Ekspor sesuai dengan Kementerian Presiden Republik Indonesia (Keppres) no. 24 tahun 2023. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×