kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.773.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.739   71,00   0,40%
  • IDX 6.162   67,10   1,10%
  • KOMPAS100 813   8,13   1,01%
  • LQ45 620   4,04   0,66%
  • ISSI 218   3,97   1,85%
  • IDX30 355   2,58   0,73%
  • IDXHIDIV20 437   -1,89   -0,43%
  • IDX80 94   1,08   1,17%
  • IDXV30 121   0,41   0,34%
  • IDXQ30 115   -0,63   -0,54%

Harga minyak tersulut, perbaikan defisit migas kian menantang


Rabu, 08 Januari 2020 / 20:19 WIB
ILUSTRASI. harga minyak naik akibat ketegangan Timur Tengah


Reporter: Grace Olivia | Editor: Anna Suci Perwitasari

Semakin lama durasi ketegangan AS-Iran dan semakin tinggi harga minyak terkerek naik, maka dampak ke pelebaran defisit neraca dagang pun akan semakin besar. Bukan tak mungkin, defisit neraca dagang tahun ini bisa kembali memburuk mendekati posisi defisit pada 2018.

Faisal memprediksi, defisit neraca dagang bisa mencapai kisaran US$ 7 miliar tahun ini jika kenaikan harga minyak benar-benar mencapai kisaran US$ 80-US$ 100 per barel. Di satu sisi, harapannya ada perbaikan marginal di sisi neraca nonmigas akibat ekspor yang diproyeksikan membaik. Namun, di sisi lain, neraca migas kembali terancam memburuk defisitnya. 

Baca Juga: OPEC kembali memangkas produksi, ICP Desember naik jadi US$ 67,18 per barel

“Tak hanya berdampak ke neraca perdagangan, ketegangan geopolitik AS-Iran dan harga minyak yang tinggi secara berkepanjangan akan sangat buruk bagi perekonomian secara keseluruhan. Misalnya, dampak ke inflasi akibat kenaikan biaya produksi dan harga penjualan barang-barang,” pungkas Faisal. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×