kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.954.000   50.000   1,72%
  • USD/IDR 16.853   10,00   0,06%
  • IDX 8.212   -53,08   -0,64%
  • KOMPAS100 1.158   -9,98   -0,85%
  • LQ45 830   -9,73   -1,16%
  • ISSI 295   -1,25   -0,42%
  • IDX30 432   -3,95   -0,91%
  • IDXHIDIV20 516   -4,82   -0,92%
  • IDX80 129   -1,21   -0,93%
  • IDXV30 142   -0,67   -0,47%
  • IDXQ30 139   -1,75   -1,24%

Harga Daging Naik Mendekati Ramadan, Kuota Impor Disorot Industri


Jumat, 13 Februari 2026 / 13:30 WIB
Harga Daging Naik Mendekati Ramadan, Kuota Impor Disorot Industri
ILUSTRASI. Harga Daging Sapi (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Hervin Jumar | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga daging mulai menanjak mendekati Ramadan. Di pasar tradisional, daging sapi kini diperdagangkan sekitar Rp140.000 per kilogram (kg), mendekati batas atas harga acuan. Sementara itu, daging kerbau impor yang diharapkan menjadi pilihan lebih terjangkau justru dijual jauh di atas patokan pemerintah.

Data Panel Harga Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) per Jumat (13/2/2026) mencatat harga daging sapi segar bagian paha berada di rentang Rp 130.000–Rp 142.000/kg. Adapun daging kerbau impor asal India rata-rata mencapai Rp 112.100/kg secara nasional, bahkan menembus Rp120.000/kg di Pulau Jawa atau sekitar 50% di atas Harga Acuan Pembelian (HAP) Rp 80.000/kg.

Baca Juga: DEN Luncurkan Website Resmi, Perkuat Rekomendasi Kebijakan Ekonomi Berbasis Data

Kuota impor daging kerbau 2026 sebesar 100.000 ton saat ini berada di tangan dua BUMN, yakni PT Berdikari dan PT Perusahaan Perdagangan Indonesia. Di saat yang sama, pemerintah memangkas kuota impor daging sapi untuk swasta secara signifikan.

Direktur Eksekutif Asosiasi Industri Pengolahan Daging Indonesia (Nampa), Hastho Yulianto, menyebut kebijakan tersebut berdampak langsung pada ketersediaan pasokan dan stabilitas industri. Alokasi impor daging sapi tahun 2026 hanya 30.000 ton, turun tajam dari realisasi tahun lalu sekitar 180.000 ton.

Ia menjelaskan, dari total tersebut, porsi untuk pelaku industri pengolahan daging hanya sekitar 17.000 ton.

“Dengan pasokan yang makin terkonsentrasi di tangan BUMN dan menurunnya fleksibilitas swasta, maka pasar pun rentan terhadap gangguan,” kata Hastho dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (13/2/2026).

Menurut Hastho, pengetatan kuota ini berisiko memicu kekurangan bahan baku bagi industri olahan daging. Jika kondisi berlanjut tanpa evaluasi menyeluruh, ia memperingatkan dampaknya bisa meluas ke penurunan kapasitas produksi, tertundanya ekspansi usaha, hingga potensi penghentian operasional sebagian perusahaan.

Terkait pembukaan impor dari Brasil, Hastho menilai langkah itu belum tentu efektif menekan harga. Ia mengungkapkan pengalaman sejak 2016 menunjukkan impor daging kerbau oleh BUMN yang ditujukan sebagai instrumen stabilisasi tidak selalu berujung pada harga lebih rendah di pasar, bahkan dalam beberapa periode justru diikuti kenaikan harga.

Nampa juga meminta pemerintah tidak membatasi impor daging khusus untuk kebutuhan industri, termasuk sektor hotel, restoran, dan katering (horeka). 

Baca Juga: Prabowo: Anggaran MBG dari Efisiensi, Bukan Pemborosan Anggaran

Menurut Hastho, daging impor tersebut merupakan bahan baku yang diolah kembali menjadi produk bernilai tambah, bukan dijual langsung ke konsumen akhir.

Ia pun lantas menyoroti persoalan perizinan, yang mana terdapat Izin Pemasukan API-U dengan jenis daging yang tidak sesuai pengajuan. Kondisi ini, kata dia, membuat kuota secara angka terlihat tersedia, tetapi secara praktik tidak dapat dimanfaatkan optimal oleh industri.

Situasi tersebut bahkan berpotensi memukul importir umum karena tidak memiliki produk sesuai kebutuhan pasar.

Hastho menilai kebijakan daging saat ini tidak sejalan dengan agenda penguatan industri nasional

“Dengan pembatasan kuota, harga bahan baku industri melonjak tajam dan itu sudah terasa di lapangan,” ujarnya.

Di sisi lain, Perumda Dharma Jaya memastikan stok daging sapi dan ayam di Jakarta aman hingga Idulfitri 2026.

Direktur Utama Dharma Jaya, Raditya Endra Budiman, menyebut perseroan menyiapkan 1.246 ton daging sapi dan 435 ton daging ayam, serta 1.594 ekor sapi hidup yang siap dipotong. 

“Insya Allah akhir Februari ini akan datang lagi sekitar 500 sampai 600 ekor sapi dari Australia,” ujarnya di Balai Kota DKI Jakarta, Rabu (11/2/2026).

Raditya menuturkan, jika diperlukan pihaknya masih memiliki cadangan sekitar 1.000 ekor lagi untuk membantu stabilisasi harga. 

Baca Juga: Polri Bangun 1.179 Dapur Makan Bergizi Gratis, Target Bisa Serap 58.950 Tenaga Kerja

Selanjutnya: Ini Kata Adapundi Soal Ketentuan Pembatasan Pinjaman Borrower Jadi 30%

Menarik Dibaca: Promo Es Krim Alfamart Spesial Valentine, Beli 1 Gratis 1 dan Beli 2 Gratis 1

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×