kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.859.000   40.000   1,42%
  • USD/IDR 17.539   9,00   0,05%
  • IDX 6.859   -46,72   -0,68%
  • KOMPAS100 916   0,38   0,04%
  • LQ45 670   1,21   0,18%
  • ISSI 248   -2,34   -0,93%
  • IDX30 377   0,90   0,24%
  • IDXHIDIV20 461   -0,72   -0,16%
  • IDX80 104   0,22   0,22%
  • IDXV30 132   0,58   0,44%
  • IDXQ30 120   -0,91   -0,75%

TNI Tetapkan Status Siaga 1, Ekonom: Terlalu Berlebihan dan Rugikan Investasi


Selasa, 10 Maret 2026 / 13:06 WIB
TNI Tetapkan Status Siaga 1, Ekonom: Terlalu Berlebihan dan Rugikan Investasi
ILUSTRASI. Keputusan Panglima TNI menetapkan status Siaga 1 menuai kritik. Ekonom sebut langkah ini berpotensi memperburuk ekonomi.(KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Keputusan Panglima TNI yang menetapkan status Siaga 1 untuk mengantisipasi situasi keamanan dalam negeri di tengah memanasnya konflik Iran yang memicu isu gejolak sosial mendapat sorotan. Kebijakan ini dinilai terlalu reaktif dan justru bisa menjadi bumerang bagi stabilitas ekonomi nasional.

Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin menilai, munculnya wacana Siaga 1 ini dipicu oleh kekhawatiran pemerintah terhadap potensi gelombang demonstrasi. Hal ini seiring dengan memburuknya kondisi ekonomi dan ketidakpuasan publik terhadap kebijakan pemerintah.

"Jika benar akan diterapkan status siaga 1, penyebabnya kemungkinan adalah potensi demo akibat kondisi ekonomi yang memburuk, ditambah dengan ketidakpuasan masyarakat terhadap cara-cara pemerintah menangani isu ekonomi dan politik luar negeri," ujarnya kepada Kontan.co.id, Selasa (10/3/2026).

Baca Juga: Penjualan Eceran Diperkirakan Stabil 3 Bulan Mendatang, dan Naik 6 Bulan ke Depan

Ia menambahkan, narasi kritis yang mulai disuarakan oleh berbagai elemen masyarakat, termasuk kelompok mahasiswa, menjadi alasan kuat bagi pemerintah untuk memperketat pengamanan. Namun, Wijayanto menilai langkah ini justru menunjukkan sisi yang kurang positif

Menurutnya, penetapan status keamanan tertinggi tersebut tidak krusial untuk dilakukan saat ini. Alih-alih meredam suasana, langkah militeristik atau keamanan yang ketat dianggap bisa memperkeruh situasi di lapangan.

"Terlalu berlebihan, justru berpotensi memperburuk keadaan. Paling tidak dari sisi persepsi di mata investor dan dunia usaha," tegasnya.

Baca Juga: BI: Momentum Ramadan Kinerja Penjualan Eceran Diperkirakan Naik Pada Februari 2026

Dari sisi makroekonomi, Wijayanto memperingatkan bahwa status Siaga 1 akan berdampak negatif terhadap iklim bisnis di Indonesia. Pasalnya, kepercayaan investor sangat bergantung pada persepsi stabilitas keamanan yang wajar dan kondusif.

"Merugikan. Kita sedang perlu membangun kepercayaan dunia usaha dan investor, status siaga 1 justru berlawanan dengan upaya tersebut," pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×