Reporter: Indra Khairuman | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Meski produk ekspor Indonesia menghadapi tantangan akibat tarif impor tinggi yang diterapkan Amerika Serikat (AS), masih ada peluang untuk meningkatkan daya saing di pasar tersebut, terutama ketika dibandingkan dengan negara pesaing seperti Vietnam dan China.
Mohammad Faisal, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia mengatakan, dalam konteks daya saing ini, penting untuk menganalisis setiap produk secara individual.
“Kalau mau lebih tepatnya kita mesti melihat satu per satu produk,” ujar Faisal kepada Kontan.co.id, Jumat (4/4).
Baca Juga: Respon Tarif Resiprokal AS, Pemerintah Segera Hitung Dampaknya ke Perekonomian RI
Ini dikarenakan setiap produk memiliki tingkat daya saing yang berbeda-beda. Ketika tarif tinggi dikenakan, dampaknya terhadap market share produk Indonesia sangat bergantung dengan siapa pesaingnya dan seberapa besar market share yang mereka miliki.
Faisal memberikan contoh yang konkret mengenai produk ekspor Indonesia yang memiliki market share yang besar di Amerika. Produk-produk seperti pakaian, Sepatu olahraga, dan udang kemasan memberikan kontribusi signifikan terhadap total ekspor Indonesia ke AS.
“Jadi sebagai contoh, misalnya produk-produk pakaian seperti pakaian warna hitam, jersey, kaos, Sepatu olahraga, udang kemasan, udang-udangan, kepiting, produk perikanan, kemudian ban dari karet, nah itu share ekspor ke pasar Amerikanya besar terhadap total ekspor kita,” katanya.
Jika produk-produk ini dikenakan tarif tinggi, maka dampaknya akan terasa sangat signifikan bagi daya saing mereka.
Faisal juga menegaskan pentingnya membandingkan tarif yang dikenakan pada negara-negara pesaing. Misalnya, jika Vietnam dan China dikenakan tarif yang lebih tinggi, Indonesia dapat menghasilkan keuntungan kompetitif meskipun tetap terkena tarif.
“Oh jadi mestinya kalau tarifnya lebih tinggi, ya mestinya kita jadi, walaupun kita kena tarif, tapi tetap jadinya barang peningkatan kenaikan harga di pasar Amerika lebih tinggi peingkatan harganya mereka, dibandingkan kita,” ucap Faisal.
Ini menandakan bahwa dalam beberapa situasi, Indonesia masih memiliki potensi untuk bersaing lebih baik dibandingkan negara-negara tersebut.
Namun, Faisal juga mengingatkan pentingnya mempertimbangkan faktor lain, seperti keberadaan substitusi produk dalam negeri di Amerika.
Jika produk lokal bisa memenuhi permintaan yang sama, maka daya saing produk Indonesia bisa terpengaruh.
“Karena kalau semua barang impor dikenakan tarif tinggi, berarti maka yang sekarang lebih tinggi meningkat daya saingnya adalah produk dalam negeri,” ujarnya.
Baca Juga: Indonesia Bisa Gunakan Alasan Ini Untuk Negosiasi Tarif Perdagangan ke AS
Menurut Faisal, meskipun Indonesia menghadapi tarif yang cukup tinggi, daya saing produk Indonesia bisa tetap lebih baik dibandingkan dengan negara-negara yang dikenakan tarif lebih tinggi seperti Vietnam dan Thailand.
“Nah mestinya kita daya saingnya jadi lebih bagus, walaupun kita juga kena tarif 32%,” tambahnya.
Selanjutnya: Respons Tarif Impor Donald Trump, API dan APSYFI Serukan 4 Poin Ini ke Pemerintah
Menarik Dibaca: Garuda Metalindo Bukukan Kinerja Solid di Kuartal IV 2024, Ekspor Jadi Penopang
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News