kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.774.000   0   0,00%
  • USD/IDR 18.000   153,00   0,86%
  • IDX 5.941   -254,36   -4,11%
  • KOMPAS100 785   -38,94   -4,72%
  • LQ45 589   -30,28   -4,89%
  • ISSI 206   -8,52   -3,97%
  • IDX30 334   -15,73   -4,50%
  • IDXHIDIV20 412   -15,89   -3,71%
  • IDX80 89   -4,83   -5,16%
  • IDXV30 113   -4,09   -3,48%
  • IDXQ30 108   -4,46   -3,97%

Greenpeace tak puas dengan Inpres Moratorium hutan


Jumat, 20 Mei 2011 / 18:52 WIB
ILUSTRASI. Dua kapal perusak milik China saat melakukan latihan.


Reporter: Petrus Dabu | Editor: Edy Can

JAKARTA. Greenpeace tak puas dengan isi Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 10 Tahun 2011 tentang Penundaan Pemberian Izin dan Penyempurnaan Tata Kelola Hutan Alam Primer dan Lahan Gambut. Pasalnya, jeda tebang hutan ini hanya berlaku untuk hutan alam primer dan sebagian kecil lahan gambut.

Juru Kampanye Hutan Greenpeace Bustar Maitar mengatakan, sebagian besar areal yang termasuk dalam peta indikatif moratorium dalam kawasan konservasi dan lindung yang dilindungi oleh hukum. Dia mengatakan, masih ada puluhan juta hektare hutan yang terancam dihancurkan.

”Pengumuman hari ini jauh dari komitmen Presiden Susilo Bambang Yudhoyono terkait perlindungan hutan dan membuat keraguan besar dalam pengimplemetasiannya,”ujarnya dalam rilis yang diterima KONTAN, Jumat (20/5).

Menurut kajian Greenpeace seharusnya, ada 104,8 juta hektare hutan Indonesia tercakup dalam moratorium untuk membuat komitmen SBY lebih berarti. “Dengan komitmen moratorium hanya sebesar 64 juta hektare artinya masih ada 39% (sekitar 40 juta hektar) hutan indonesia yang akan dihancurkan,”ujarnya.

SBY telah menerbitkan Inpres tentang Moratorium Hutan, Kamis (19/5) lalu. Dalam Inpres tersebut, moratorium berlaku bagi 64 juta hektare kawasan hutan gambut dan hutan primer di seluruh Indonesia. Adapun pemerintah telah menyiapkan kawasan hutan seluas 34 juta hektare untuk kepentingan bisnis.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×