kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.940.000   20.000   0,68%
  • USD/IDR 16.808   -72,00   -0,43%
  • IDX 8.032   96,61   1,22%
  • KOMPAS100 1.132   15,02   1,34%
  • LQ45 821   5,36   0,66%
  • ISSI 284   5,77   2,08%
  • IDX30 427   0,41   0,10%
  • IDXHIDIV20 513   -1,95   -0,38%
  • IDX80 127   1,53   1,22%
  • IDXV30 139   0,46   0,33%
  • IDXQ30 139   -0,29   -0,21%

Empat catatan KPK untuk anggota DPR 2014-2019


Rabu, 01 Oktober 2014 / 13:46 WIB
Empat catatan KPK untuk anggota DPR 2014-2019
ILUSTRASI. Pertambangan mineral Bumi Resources Minerals BRMS


Reporter: Adinda Ade Mustami | Editor: Yudho Winarto

JAKARTA. Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Bambang Widjojanto mengatakan, pihaknya telah melakukan kajian terkait DPR yang kemudian menghasilkan beberapa poin penting sebagai catatan dalam penyelenggaraan parlemen.

KPK berharap, hasil kajian yang juga telah disampaikan kepada pimpinan DPR sebelumnya, tidak hanya menjadi catatan saja, tetapi juga diimplementasikan.

Pertama kata Bambang, soal perekrutan sistem pendukung anggota dewan, yakni para tenaga ahli anggota dewan. Selama ini kata Bambang, mekanisme rekrutmen pendukung anggota dewan tidak dilakukan secara transparan dan akuntabel.

"Maka orang-orang yang membantu anggota dewan itu bukan orang hebat. Padahal pekerjaan anggota dewan itu harus ditopang oleh orang-orang yang spesifik keahliannya, itu diperlukan," kata Bambang, Rabu (1/10).

Kedua kata Bambang, soal kewenangan legislasi. Di DPR sambung Bambang, tidak mungkin tidak adanya praktik lobi-lobi. Jika tidak ada sistem mekanisme untuk meminimalisasi potensi penyalahgunaan kewenangan dalam lobi-lobi tersebut, maka disinyalir adanya praktik korupsi di setiap legislasi.

Bambang mencontohkan, adanya konflik kepentingan, seperti adanya perusahaan penyedia jasa haji di setiap komisi haji DPR. Selain itu, adanya hubungan antara kantor pengacara di komisi hukum.

"Ketiga, mekanisme membangun integrity dan akuntabilitas di dalam (kewenangan pokok anggota dewan)," tambah Bambang.

Terakhir, perlu dilakukan adanya evaluasi kinerja Dewan Kehormatan DPR yang menggantikan Badan Kehormatan (BK) DPR. "Kalau kinerjanya tidak dievaluasi akan sama dengan BK," tutup Bambang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×