kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.670.000   0   0,00%
  • USD/IDR 18.020   39,00   0,22%
  • IDX 5.916   40,29   0,69%
  • KOMPAS100 770   5,43   0,71%
  • LQ45 584   2,70   0,46%
  • ISSI 205   1,22   0,60%
  • IDX30 331   1,85   0,56%
  • IDXHIDIV20 408   2,21   0,55%
  • IDX80 87   0,50   0,57%
  • IDXV30 110   0,09   0,09%
  • IDXQ30 107   0,43   0,40%

Ekonom Proyeksi Cadangan Devisa Juni Tertekan, Defisit NPI Berlanjut di Kuartal Kedua


Senin, 06 Juli 2026 / 19:27 WIB
Ekonom Proyeksi Cadangan Devisa Juni Tertekan, Defisit NPI Berlanjut di Kuartal Kedua
ILUSTRASI. Ekonom memprediksi cadangan devisa Juni 2026 turun hingga US$ 141,2 miliar. Cari tahu pemicu utama pelemahan dan dampaknya pada ekonomi (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Sejumlah ekonom memproyeksikan posisi cadangan devisa Indonesia pada Juni 2026 masih berada dalam tekanan. Pelemahan cadangan devisa diperkirakan sejalan dengan berlanjutnya defisit Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada kuartal II-2026 akibat arus modal keluar, menyusutnya surplus perdagangan, serta tingginya kebutuhan valuta asing.

Ekonom Bank Tabungan Negara (BTN) Myrdal Gunarto memperkirakan, posisi cadangan devisa Indonesia turun menjadi sekitar US$ 141,2 miliar pada Juni 2026, dari posisi Mei sebesar US$ 144,9 miliar.

"Kita lihat bulan Juni ini turun ke sekitar US$ 141,2 miliar. Sudah kelihatan dari mana dan kenapa-nya cadangan devisa kita turun," ujar Myrdal kepada Kontan, Minggu (6/7/2026).

Menurutnya, penurunan cadangan devisa dipicu oleh keluarnya modal asing (capital outflow), terutama dari pasar saham. Selain itu, defisit neraca perdagangan, meski tidak sedalam Mei, serta pembayaran dividen kepada investor asing turut mengurangi cadangan devisa.

Baca Juga: Lesbumi PBNU Minta Pemerintah Tinjau Ulang Tiga Aturan Pengendalian Tembakau

Myrdal juga memperkirakan, NPI pada kuartal II-2026 masih mencatat defisit sekitar US$ 4,3 miliar.

Ia menjelaskan, pelebaran defisit transaksi berjalan dipengaruhi oleh mengecilnya surplus perdagangan, tingginya pembayaran dividen dalam pos pendapatan primer (primary income), serta arus keluar pada pos investasi lainnya (other investment).

"Surplus dari remitansi pekerja migran dan investasi langsung (FDI) belum mampu menutupi keluarnya dana dari primary income maupun other investment yang outflow-nya cukup besar," katanya.

Menurut Myrdal, tekanan eksternal tersebut lebih banyak dipengaruhi kondisi global yang belum kondusif, termasuk penguatan dolar Amerika Serikat, kenaikan harga minyak dunia, dan perpindahan dana investor ke negara-negara maju yang menawarkan prospek pasar keuangan lebih menarik.

Kondisi tersebut, lanjutnya, turut memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah serta meningkatkan imported inflation.

Senada, Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual memperkirakan, cadangan devisa Juni masih tertekan atau paling tidak stagnan karena belum ada indikasi pemulihan yang signifikan.

"Proyeksi cadangan devisa per Juni masih tertekan atau paling tidak stagnan, belum ada indikasi rebound signifikan," ujar David kepada Kontan, Senin (6/7/2026).

Baca Juga: Tak Hanya RI, Negara-negara Asia Tenggara Kini Berebut Biofuel

David bilang, tekanan berasal dari defisit neraca perdagangan yang diperkirakan masih berlanjut pada Juni, pelemahan rupiah, pembayaran utang luar negeri, serta kebutuhan intervensi Bank Indonesia (BI) untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

Selain itu, sentimen global yang masih bergejolak juga dinilai menahan arus modal asing masuk ke Indonesia.

Ia memperkirakan NPI kuartal II-2026 juga masih mencatat defisit. Defisit perdagangan yang semakin dalam diperkirakan memperlebar defisit transaksi berjalan, sementara investor asing masih cenderung bersikap wait and see di tengah ketidakpastian domestik dan kebijakan suku bunga tinggi bank sentral Amerika Serikat (The Fed).

Menurut David, kondisi tersebut juga mempersempit ruang gerak BI untuk melakukan intervensi di pasar valas.

Di sisi lain, Kepala Ekonom Bank Syariah Indonesia (BSI) Banjaran Surya Indrastomo memiliki proyeksi yang lebih moderat. Ia memperkirakan cadangan devisa Juni relatif stabil di kisaran US$ 145 miliar.

Menurutnya, arus masuk modal asing sebesar sekitar US$ 3,9 miliar hingga pertengahan Juni, terutama ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN), membantu mengimbangi tekanan dari kebutuhan valas domestik, pembayaran utang luar negeri, dan defisit neraca perdagangan.

Meski demikian, Banjaran mengingatkan, ruang peningkatan cadangan devisa masih terbatas karena BI tetap harus melakukan intervensi di pasar valas melalui instrumen NDF offshore, pasar spot, dan Domestic Non Deliverable Forward (DNDF) untuk menjaga stabilitas rupiah.

Baca Juga: Penggantian Bea Cukai dengan SGS Tak Otomatis Berantas Manipulasi Impor

Ia memperkirakan, NPI pada kuartal II-2026 masih defisit di kisaran US$ 3 miliar hingga US$ 5 miliar, namun lebih rendah dibandingkan defisit kuartal I-2026 yang mencapai US$ 9,15 miliar.

"Perbaikan NPI lebih banyak ditopang oleh capital inflow dan respons kebijakan BI, bukan oleh penguatan transaksi berjalan. Karena itu kualitas perbaikannya masih perlu dicermati," ujar Banjaran.

Menurutnya, defisit transaksi berjalan masih menjadi tantangan utama akibat pelebaran defisit migas dan melemahnya surplus perdagangan. Karena itu, meskipun tekanan terhadap rupiah diperkirakan mereda, biaya stabilisasi nilai tukar masih akan tetap tinggi selama ketidakpastian global belum mereda.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Teori, Strategi & Taktik Penagihan Kredit/ Piutang Macet Secara Dini & Terintegrasi Serta Efisien & Efektif

[X]
×