Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 mengalami defisit sebesar Rp 164,4 triliun atau 0,64% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada April 2026.
Realisasi defisit ini lebih rendah jika dibandingkan dengan posisi Maret 2026 yang sebesar 0,93% PDB.
Global Market Economist Maybank Indonesia Myrdal Gunarto menilai kinerja APBN hingga April 2026 menunjukkan kondisi fiskal yang masih sangat baik, meskipun pemerintah menjalankan belanja negara secara lebih agresif dibandingkan tahun sebelumnya.
Baca Juga: Resmi Berstatus BUMN, DSI Siap Kelola Ekspor SDA
Menurut dia, perbaikan penerimaan negara terlihat dari sejumlah indikator utama, terutama pajak pertambahan nilai (PPN), PPN barang mewah (PPnBM), hingga penerimaan negara bukan pajak (PNBP) yang mencatat pertumbuhan positif.
Ia mengatakan, capaian tersebut tetap positif meskipun terdapat faktor frontloading pelaporan Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT) yang sempat memengaruhi penerimaan pada awal tahun.
Secara keseluruhan, lanjutnya, performa fiskal Indonesia pada April 2026 menunjukkan kondisi yang cukup kuat. Hal itu terlihat dari kemampuan pemerintah menjaga keseimbangan antara peningkatan belanja negara dan penerimaan negara.
"Jadi secara umum memang posisi performa fiskal kita itu cukup baik ya atau sangat baik pada April 2026," kata Myrdal kepada Kontan, Senin (25/5/2026).
Myrdal menilai belanja negara tahun ini memang jauh lebih agresif dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Meski demikian, kondisi tersebut masih dapat diimbangi oleh penerimaan negara yang tumbuh solid sehingga defisit tetap terkendali.
Ia menambahkan, langkah efisiensi anggaran yang dilakukan pemerintah diperkirakan akan membantu menjaga posisi fiskal pada semester kedua tahun ini.
Efisiensi tersebut antara lain dilakukan melalui pengurangan perjalanan dinas kementerian/lembaga dan sejumlah penyesuaian belanja lainnya.
Baca Juga: DJP Masih Kaji Skema Restitusi PPN untuk Ekspor SDA Lewat Danantara DSI
Selain itu, stabilitas harga energi domestik juga dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga aktivitas ekonomi nasional tetap bergerak positif sehingga mendukung penerimaan negara.
"Pendapatan negara kemungkinan akan terdongkrak oleh aktivitas ekonomi domestik yang masih dijaga stabil terutama dengan harga bahan bakar minyak (BBM) yang tidak berubah atau harga energi yang tidak berubah," katanya.
Di sisi lain, tingginya harga komoditas global dan pelemahan nilai tukar rupiah juga diperkirakan memberikan tambahan penerimaan negara, khususnya dari sektor bea keluar dan PNBP berbasis komoditas.
Dengan berbagai faktor tersebut, Myrdal memperkirakan posisi defisit fiskal hingga akhir tahun masih berada dalam batas aman.
"Kalau saya lihat untuk posisi defisit fiskal kita masih akan relatif aman dengan proyeksi akhir tahun di level sekitar 2,9%," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













