Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Sejumlah ekonom memperkirakan inflasi pada Juni 2026 meningkat dibandingkan bulan sebelumnya. Kenaikan ini utamanya dipicu harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi Pertamax, imported inflation akibat pelemahan nilai tukar rupiah, hingga harga pangan.
Kepala Ekonom Bank Central Asia David Sumual memproyeksikan inflasi Juni 2026 mencapai 3,45% secara tahunan (year on year/yoy) dan 0,55% secara bulanan (month to month/mtm). Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan realisasi inflasi Mei 2026 yang sebesar 3,08% yoy dan 0,28% mtm.
Sementara itu, inflasi inti pada Juni diperkirakan turun menjadi 2,38% yoy dan mengalami deflasi 0,14% mtm. Sebagai perbandingan, inflasi inti pada Mei tercatat sebesar 2,59% yoy dan 0,22% mtm.
Baca Juga: Insentif Motor Listrik Kembali Ditunda, Pemerintah Targetkan Berlaku Agustus 2026
"Inflasi Juni didorong oleh harga Pertamax yang naik 33% berkontribusi sekitar 0,37% dari inflasi, dan harga bahan pokok yang konsisten masih naik," ujar David kepada Kontan, Senin (29/6).
Menurut David, pelemahan inflasi inti dipengaruhi oleh penurunan harga emas perhiasan.
"Di sisi lain, inflasi inti turun dari bulan lalu karena harga emas yang juga turun relatif kencang," katanya.
Senada, Kepala Ekonom Bank Syariah Indonesia Banjaran Surya Indrastomo memperkirakan inflasi Juni berada di kisaran 3,1% yoy, atau mendekati batas atas sasaran inflasi Bank Indonesia sebesar 3,5%.
"Inflasi Indonesia pada Juni 2026 diperkirakan berada di kisaran 3,1% YoY dengan peluang mendekati batas atas sasaran Bank Indonesia (3,5%) secara moderat," ujar Banjaran kepada Kontan, Senin (29/6).
Banjaran menjelaskan, kenaikan inflasi dipicu oleh kombinasi pelemahan nilai tukar rupiah, penyesuaian harga Pertamax, serta meningkatnya konsumsi masyarakat selama libur sekolah yang mendorong permintaan pada sektor transportasi, akomodasi, restoran, dan pariwisata.
Menurutnya, imported inflation akibat pelemahan rupiah diperkirakan menjadi faktor utama karena meningkatkan harga barang impor, bahan baku industri, dan biaya produksi sehingga tekanan harga meluas ke berbagai kelompok barang dan jasa.
"Kenaikan harga Pertamax menjadi faktor penting berikutnya, melalui peningkatan biaya transportasi dan logistik, dengan dampak yang cenderung lebih terasa di tengah meningkatnya mobilitas selama periode liburan," ujarnya.
Di sisi lain, Banjaran menilai kenaikan suku bunga acuan atau BI Rate secara kumulatif sebesar 100 basis poin (bps) belum akan berdampak terhadap inflasi Juni. Hal itu lantaran transmisi kebijakan moneter membutuhkan waktu.
Dalam jangka pendek, kenaikan BI Rate lebih berperan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, mengendalikan ekspektasi inflasi, serta meredam tekanan inflasi pada periode berikutnya.
Secara keseluruhan, Banjaran menilai risiko inflasi mulai bergeser dari kelompok volatile food menuju administered prices dan imported inflation.
"Karena itu, pergerakan nilai tukar rupiah dan kebijakan harga energi diperkirakan akan menjadi faktor utama yang menentukan arah inflasi dalam beberapa bulan mendatang," ujar Banjaran.
Baca Juga: Pemerintah Kembalikan Dana SAL Rp 110 Triliun ke Himbara, Ini Kata Ekonom
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














