Reporter: Siti Masitoh | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Posisi cadangan devisa Indonesia menurun pada Januari 2026. Berdasarkan laporan Bank Indonesia (BI), cadangan devisa pada periode tersebut mencapai US$ 154,6 miliar, atau lebih rendah dari bulan sebelumnya yang mencapai US$ 156,5 miliar.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai, meskipun terdapat penerbitan global bond oleh pemerintah, cadangan devisa tetap turun lantaran pada waktu yang sama terdapat ada arus keluar besar untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah dan langkah BI menjaga stabilitas nilai tukar di tengah ketidakpastian pasar global.
“Dari sisi arus dana asing, Januari 2025 juga hanya mencatat arus keluar bersih tipis, dengan tekanan utama dari pasar saham setelah peringatan (Morgan Stanley Capital International) MSCI, sementara pasar obligasi dan instrumen BI masih mencatat arus masuk yang menahan tekanan namun belum cukup membalikkan penurunan cadangan,” tutur Josua kepada Kontan, Jumat (6/2/2026).
Meski cadangan devisa turun, Josua menilai levelnya masih kuat karena setara 6,3 bulan impor atau 6,1 bulan impor ditambah pembayaran utang luar negeri pemerintah, jauh di atas patokan kecukupan sekitar 3 bulan impor.
Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi RI Bisa Maksimal, Tapi Ada Syaratnya
Ke depan, ia memperkirakan peluang cadangan devisa Indoensia akan tetap stabil dan naik bertahap masih ada, asalkan defisit transaksi berjalan tetap terkendali.
Josua memperkirakan, defisit transaksi berjalan melebar moderat dari 0,11% dari produk domestik bruto (PDB) pada 2025 ke defisit 0,59% PDB pada 2026, serta arus dana asing membaik seiring arah penurunan suku bunga bank sentral AS.
“Sehingga proyeksi cadangan devisa berpeluang naik ke sekitar US$ 157 miliar – US$ 159 miliar pada akhir 2026,” ungkapnya.
Akan tetapi, ia melihat, sepanjang 2026 sentimen yang paling berpengaruh ke cadangan devisa tetap gabungan faktor eksternal dan domestik yakni surplus dagang diperkirakan masih ada tetapi menyempit karena impor bahan baku dan barang modal cenderung naik lebih cepat.
Sementara itu, kinerja ekspor menormal dan rentan perlambatan China serta pergerakan harga komoditas, ditambah risiko geopolitik yang bisa mengganggu perdagangan global.
Baca Juga: Moody's Turunkan Outlook, Menkeu Purbaya Minta Investor Tak Khawatir Kondisi Fiskal
Dari domestik, Josua menyebut terdapat juga isu perbaikan pasar modal yang diminta MSCI hingga Mei 2026 serta perubahan pandangan lembaga pemeringkat yang menekan kepercayaan investor berisiko memicu arus keluar dana asing dan pelemahan rupiah, yang pada akhirnya membuat BI kembali memakai cadangan devisa untuk menjaga stabilitas.
Selanjutnya: Pertumbuhan Ekonomi RI Bisa Maksimal, Tapi Ada Syaratnya
Menarik Dibaca: Hemat Lebih Banyak! 6 Promo Kuliner Spesial Hari Ini 6 Februari, Starbucks hingga A&W
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












