kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.940.000   20.000   0,68%
  • USD/IDR 16.808   -72,00   -0,43%
  • IDX 8.032   96,61   1,22%
  • KOMPAS100 1.132   15,02   1,34%
  • LQ45 821   5,36   0,66%
  • ISSI 284   5,77   2,08%
  • IDX30 427   0,41   0,10%
  • IDXHIDIV20 513   -1,95   -0,38%
  • IDX80 127   1,53   1,22%
  • IDXV30 139   0,46   0,33%
  • IDXQ30 139   -0,29   -0,21%

Proyeksi Cadangan Devisa Usai Turun Jadi US$ 154,6 Miliar di Januari 2026


Minggu, 08 Februari 2026 / 08:28 WIB
Proyeksi Cadangan Devisa Usai Turun Jadi US$ 154,6 Miliar di Januari 2026
ILUSTRASI. Cadangan devisa Indonesia anjlok Januari 2026 menjadi US$ 154,6 miliar, padahal global bond terbit


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Posisi cadangan devisa Indonesia menurun pada Januari 2026. Berdasarkan laporan Bank Indonesia (BI), cadangan devisa pada periode tersebut mencapai US$ 154,6 miliar, atau lebih rendah dari bulan sebelumnya yang mencapai US$ 156,5 miliar.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai, meskipun terdapat penerbitan global bond oleh pemerintah, cadangan devisa tetap turun lantaran pada waktu yang sama terdapat ada arus keluar besar untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah dan langkah BI menjaga stabilitas nilai tukar di tengah ketidakpastian pasar global.

“Dari sisi arus dana asing, Januari 2025 juga hanya mencatat arus keluar bersih tipis, dengan tekanan utama dari pasar saham setelah peringatan (Morgan Stanley Capital International) MSCI, sementara pasar obligasi dan instrumen BI masih mencatat arus masuk yang menahan tekanan namun belum cukup membalikkan penurunan cadangan,” tutur Josua kepada Kontan, Jumat (6/2/2026).

Meski cadangan devisa turun, Josua menilai levelnya masih kuat karena setara 6,3 bulan impor atau 6,1 bulan impor ditambah pembayaran utang luar negeri pemerintah, jauh di atas patokan kecukupan sekitar 3 bulan impor.

Baca Juga: Skandal PN Depok: Fee Rp 850 Juta Perpanjang Daftar Hakim Mafia Peradilan

Ke depan, ia memperkirakan peluang cadangan devisa Indonesia akan tetap stabil dan naik bertahap masih ada, asalkan defisit transaksi berjalan tetap terkendali.

Josua memperkirakan, defisit transaksi berjalan melebar moderat dari 0,11% dari produk domestik bruto (PDB) pada 2025 ke defisit 0,59% PDB pada 2026, serta arus dana asing membaik seiring arah penurunan suku bunga bank sentral AS.

“Sehingga proyeksi cadangan devisa berpeluang naik ke sekitar US$ 157 miliar – US$ 159 miliar pada akhir 2026,” ungkapnya.

Akan tetapi, ia melihat, sepanjang 2026 sentimen yang paling berpengaruh ke cadangan devisa tetap gabungan faktor eksternal dan domestik yakni surplus dagang diperkirakan masih ada tetapi menyempit karena impor bahan baku dan barang modal cenderung naik lebih cepat.

Sementara itu, kinerja  ekspor menormal dan rentan perlambatan China serta pergerakan harga komoditas, ditambah risiko geopolitik yang bisa mengganggu perdagangan global.

Baca Juga: Prabowo Ungkap Dana Umat Bisa Capai Rp 500 Triliun Jika Dikelola dengan Baik

Dari domestik, Josua menyebut terdapat juga isu perbaikan pasar modal yang diminta MSCI hingga Mei 2026 serta perubahan pandangan lembaga pemeringkat yang menekan kepercayaan investor berisiko memicu arus keluar dana asing dan pelemahan rupiah, yang pada akhirnya membuat BI kembali memakai cadangan devisa untuk menjaga stabilitas.

Selanjutnya: Bukan Hanya Merah, 3 Warna Imlek Ini Bikin Hidup Makin Beruntung

Menarik Dibaca: Bukan Hanya Merah, 3 Warna Imlek Ini Bikin Hidup Makin Beruntung

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×