kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.675.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.842   -48,00   -0,27%
  • IDX 6.402   100,12   1,59%
  • KOMPAS100 829   5,89   0,72%
  • LQ45 632   5,12   0,82%
  • ISSI 223   5,51   2,54%
  • IDX30 354   2,79   0,80%
  • IDXHIDIV20 430   2,74   0,64%
  • IDX80 95   0,68   0,73%
  • IDXV30 119   1,18   1,00%
  • IDXQ30 112   0,79   0,71%

Subsisi BBM Turun Signifikan Pada 2027, Ini Penjelasan Menkeu


Senin, 17 Agustus 2026 / 05:00 WIB
Subsisi BBM Turun Signifikan Pada 2027, Ini Penjelasan Menkeu
ILUSTRASI. Pemerintah akan mengurangi subsidi bahan bakar minyak (BBM) secara signifikan pada 2027 (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Presiden Prabowo Subianto menegaskan pemerintah akan mengurangi subsidi bahan bakar minyak (BBM) secara signifikan pada 2027. Pasalnya, pemerintah akan memberikan insentif untuk 1 juta unit motor listrik yang diproduksi oleh perusahaan dalam negeri pada 2027.

"Subsidi BBM harus kita kurangi secara signifikan. Kemarin pemerintah meluncurkan ekosistem listrik nasional dan memberikan insentif untuk satu juta motor yang diproduksi oleh perusahaan Indonesia," kata Prabowo dalam pidatonya pada penyampaian Nota Keuangan dan RAPBN 2027 di DPR, Jumat (14/8).

Prabowo mengatakan, pengembangan kendaraan listrik menjadi salah satu upaya pemerintah mengurangi ketergantungan terhadap BBM sekaligus membangun ekosistem industri kendaraan listrik nasional.

Baca Juga: BNPB: Korban Jiwa Gempa NTT Mencapai 53 Orang dan 2.403 Rumah Rusak

Menurutnya, penggunaan motor listrik dapat memberikan sejumlah manfaat bagi masyarakat. Salah satunya adalah menekan biaya transportasi keluarga.

Prabowo memperkirakan pengeluaran harian masyarakat untuk transportasi dapat turun lebih dari 50% dengan penggunaan motor listrik. Bahkan, biaya tersebut berpotensi hanya sekitar 30% dibandingkan biaya BBM saat ini.

Manfaat kedua, kata Prabowo, adalah mengurangi impor energi yang selama ini memberikan tekanan terhadap neraca perdagangan Indonesia. Sementara manfaat ketiga adalah membuka lapangan kerja dan sumber penghasilan baru bagi generasi muda seiring dengan berkembangnya industri otomotif dalam negeri.

Melalui insentif untuk 1 juta unit motor listrik yang diproduksi industri lokal, pemerintah optimistis ekosistem kendaraan listrik nasional dapat berkembang lebih cepat dan harga produk semakin terjangkau bagi masyarakat.

"Setiap motor listrik yang berjalan di Indonesia memiliki tiga kemenangan, penghematan bagi keluarga, pengurangan impor energi dan pekerjaan serta penghasilan bagi anak-anak Indonesia," ujar Prabowo.

Baca Juga: Pemerintah Jaga Defisit RAPBN 2027 di Bawah 3%, Andalkan Penerimaan Pajak

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa buka suara terkait arahan Presiden Prabowo Subianto untuk mengurangi kuota subsidi bahan bakar minyak (BBM) secara signifikan pada 2027.

Menurut Purbaya, penurunan subsidi tersebut bukan karena adanya pembatasan pembelian Pertalite di tahun depan. Menurutnya pembatasan pertalite dilakukan sesuai dengan kondisi saat ini.

"Belum, belum. Itu belum. Itu dengan keadaan yang sekarang," ujarnya.

Purbaya menambahkan, penurunan subsidi BBM terutama dipengaruhi asumsi harga minyak mentah yang lebih rendah pada tahun depan.

Purbaya bilang, pemerintah menggunakan asumsi harga minyak mentah Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP) sebesar US$ 75 per barel pada 2027. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan harga minyak saat ini yang berada di kisaran US$ 83 per barel.

Baca Juga: Anggaran Pendidikan Naik Jadi Rp 820,9 Triliun, Gaji Guru Belum Naik pada 2027

"Belum, itu kan pasti karena subsidi harga BBM-nya turun. Asumsi BBM-nya turun tahun US$ 75 per barel. Kan sekarang US$ 83. Jadi itu otomatis kalau volumenya naik sedikit, pun kalau harganya turun segitu ya subsidinya cenderung turun," kata Purbaya kepada awak media usai konferensi pers Nota Keuangan dan RAPBN 2027, Jumat (14/8/2026).

Perlu diketahui, dalam RAPBN 2027, subsidi BBM termasuk dalam anggaran perlindungan sosial (perlinsos) yang dialokasikan sebesar Rp 549,9 triliun. 

Dalam paparan pemerintah di konferensi pers Nota Keuangan dan RAPBN 2026 di Kantor Direktorat Jenderal Pajak (DJK) kementerian Keuangan, subsidi BBM tertentu dipatok sebanyak 20,09 juta kiloliter, sementara diketahui total kuota volume BBM bersubsidi untuk tahun 2026 sebanyak 48,43 juta kiloliter. Artinya kuota BBM subsidi turun drastis hingga 58,51% atau 28,34 juta kiloliter.

Namun, Purbaya membuka kemungkinan pemerintah melakukan penyaluran subsidi yang lebih tepat sasaran. Ia mengatakan masyarakat kelompok ekonomi atas nantinya tidak seharusnya mendapatkan subsidi BBM.

"Nanti kalau memang diperlukan subsidi yang tepat sasaran, bukan pembatasan ya. Yang desil 10 lah, yang orang-orang kaya itu enggak berhak beli itu ya," katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?

Tag


TERBARU

[X]
×