kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.840.000   -44.000   -1,53%
  • USD/IDR 17.174   -32,00   -0,19%
  • IDX 7.594   -39,89   -0,52%
  • KOMPAS100 1.050   -4,57   -0,43%
  • LQ45 756   -3,02   -0,40%
  • ISSI 275   -1,90   -0,69%
  • IDX30 401   -1,97   -0,49%
  • IDXHIDIV20 490   -0,83   -0,17%
  • IDX80 118   -0,43   -0,36%
  • IDXV30 138   -1,24   -0,89%
  • IDXQ30 129   -0,39   -0,30%

Ekonom Prediksi BI Tahan Suku Bunga di Level 4,75% pada RDG April 2026


Senin, 20 April 2026 / 18:02 WIB
Ekonom Prediksi BI Tahan Suku Bunga di Level 4,75% pada RDG April 2026
ILUSTRASI. Kawasan Bisnis Jakarta (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede memprediksi Bank Indonesia (BI) masih akan menahan suku bunga acuan atau BI Rate di level 4,75% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang dijadwalkan berlangsung pada 21–22 April 2026.

Menurut Josua, skenario dasar bank sentral saat ini masih mempertahankan BI Rate di level 4,75%, searah dengan dua pertimbangan utama. Pertama, pada RDG Maret 2026, BI telah menegaskan bahwa keputusan menahan suku bunga ditujukan untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah dari dampak ketidakpastian global, khususnya akibat konflik di Timur Tengah, sekaligus menjaga sasaran inflasi 2026–2027.

Kedua, BI diperkirakan tetap mempertahankan suku bunga untuk menopang stabilitas rupiah. “Kalau melihat posisi terkini, opsi menahan suku bunga adalah pilihan yang paling masuk akal,” ujar Josua kepada Kontan, Senin (20/4/2026).

Baca Juga: Perkiraan Cuaca pada Puncak Haji hingga 47 Derajat Celcius

Ia menjelaskan, terdapat empat pertimbangan utama bagi BI dalam RDG April 2026. Pertama, nilai tukar rupiah dan arus modal. Saat ini, kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD/IDR) masih berada di kisaran 17.190. 

Sepanjang triwulan I-2026, investor asing mencatat arus keluar bersih sekitar US$ 1,78 miliar, terdiri dari outflow di pasar saham sekitar US$ 1,95 miliar dan aliran keluar investor asing sebesar US$ 1,48 miliar, meskipun instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) masih menarik arus masuk.

Kedua, risiko global yang belum mereda. Pasar masih menghitung peluang tercapainya perdamaian di kawasan Timur Tengah, namun risiko dua arah tetap besar dan berpotensi memicu volatilitas pasar.

Ketiga, harga energi. Josua menilai ruang pemangkasan suku bunga pada 2026 praktis akan habis apabila harga minyak rata-rata mencapai US$ 75 per barel dengan kurs rupiah sekitar Rp 16.750 per dolar AS. Bahkan, BI berpotensi mengambil sikap lebih hawkish jika harga minyak naik ke US$ 80 per barel dan rupiah mendekati Rp 17.000 per dolar AS.

Keempat, inflasi. Meski inflasi domestik masih terkendali, tekanan imported inflation belum sepenuhnya hilang akibat pelemahan rupiah dan sensitivitas harga energi global terhadap dinamika geopolitik. Ditambah lagi, kondisi pasar keuangan global masih fluktuatif, sehingga BI dinilai memiliki alasan kuat untuk tetap berhati-hati.

Dengan berbagai pertimbangan tersebut, Josua melihat peluang kenaikan BI Rate pada RDG April ini belum menjadi skenario dasar, meskipun tidak bisa sepenuhnya dikesampingkan. Kenaikan suku bunga dinilai baru relevan jika tekanan terhadap rupiah semakin dalam, harga minyak kembali melonjak, arus keluar modal asing membesar, dan ekspektasi inflasi mulai meningkat.

“Keputusan RDG April menurut saya lebih condong menahan suku bunga sambil memperkuat intervensi nilai tukar, pengelolaan likuiditas, dan operasi moneter,” jelasnya. 

Menurut Josua, hal ini sejalan dengan bauran kebijakan BI yang diarahkan untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah volatilitas global yang meningkat.

Lebih lanjut, Josua menilai potensi penurunan BI Rate pada tahun ini masih terbuka, namun sangat terbatas dan kemungkinan baru terjadi pada akhir tahun dengan sejumlah prasyarat ketat. Penurunan suku bunga akan sangat bergantung pada perbaikan kondisi eksternal, terutama de-eskalasi konflik di Timur Tengah yang berkelanjutan sehingga mendorong penurunan harga minyak global.

Ia mencatat, per 18 April dolar AS telah melemah selama tiga pekan berturut-turut, sementara harga minyak Brent mendekati US$ 90 per barel seiring meningkatnya optimisme perdamaian. Jika tren ini berlanjut, tekanan terhadap rupiah berpotensi mereda.

Selain itu, peluang pelonggaran suku bunga juga akan lebih besar jika arus modal asing kembali masuk, inflasi tetap terkendali, serta bank sentral Amerika Serikat membuka ruang pelonggaran kebijakan moneternya. 

“Jadi, pemicu utama penurunan BI Rate bukan karena pertumbuhan domestik melemah, melainkan karena tekanan eksternal yang mereda,” pungkasnya.

Baca Juga: Bikin Penerimaan Melempem, Ini Sektor Paling Banyak Minta Restitusi Pajak di 2025

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×