kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.703.000   40.000   1,50%
  • USD/IDR 16.977   60,00   0,35%
  • IDX 9.111   35,13   0,39%
  • KOMPAS100 1.259   3,36   0,27%
  • LQ45 890   0,58   0,06%
  • ISSI 333   2,94   0,89%
  • IDX30 453   0,83   0,18%
  • IDXHIDIV20 537   3,52   0,66%
  • IDX80 140   0,27   0,19%
  • IDXV30 148   1,41   0,96%
  • IDXQ30 146   0,50   0,34%

Rupiah Melemah, Ekonom Prediksi BI Pertahankan Suku Bunga Acuan pada RDG Januari 2026


Senin, 19 Januari 2026 / 13:34 WIB
Rupiah Melemah, Ekonom Prediksi BI Pertahankan Suku Bunga Acuan pada RDG Januari 2026
ILUSTRASI. Para ekonom memprediksi BI menahan suku bunga acuan 4,75% akhir Januari. (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Para ekonom memperkirakan Bank Indonesia (BI) masih akan mempertahankan suku bunga pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 20-21 Januari 2026.

Kepala Ekonom BCA David Sumual menilai, BI masih akan mempertahankan suku bunga di level 4,75% pada awal tahun ini lantaran kondisi nilai tukar rupiah cenderung melemah akhir-akhir ini.

Berdasarkan catatan Kontan, rupiah terus melemah pada perdagangan Senin (19/1/2026) siang. Pukul 11.48 WIB, rupiah spot ada di level Rp 16.922 per dolar Amerika Serikat (AS), melemah 0,21% dari akhir pekan lalu yang ada di Rp 16.887 per dolar AS.

Baca Juga: Ruang Penurunan BI-Rate di 2026 Lebih Terbatas

“Ekspektasinya (suku bunga BI) masih ditahan untuk mempertahankan daya tarik aset rupiah apalagi memang rupiah cenderung melemah akhir-akhir ini walau inflasi relatif stabil,” tutur David kepada Kontan, Senin (19/1/2026).

Saat ini David belum bisa memprediksi kapan suku bunga BI akan turun. Menurutnya, arah pemangkasan suku bunga BI akan bergantung juga dengan kebijakan suku bunga The Fed yang juga turun.

Terkait rupiah, ia memprediksi nilai tukar rupiah dalam jangka pendek akan berada di kisaran Rp 16.800 hingga Rp 17.000 per dolar AS.

Menurut David, agar rupiah stabil, kebijakan fiskal saat ini perlu diperhatikan dibandingkan kebijakan moneter.  Pasalnya, investor  lebih cenderung memperhatikan kebijakan fiskal.

“Investor lebih memperhatikan kebijakan fiskal, sedangkan kebijakan moneter sudah baik,” ungkapnya.

Baca Juga: BI Masih Buka Ruang Penurunan Suku Bunga di 2026, Ini Kisi-Kisinya

Ia berharap, kebijakan fiskal saat ini dan ke depan bisa tetap konservatif dan prudent, agar nilai tukar rupiah tidak melemah lebih dalam ke depannya.

Dalam kesempatan yang sama, Ekonom Bank Danamon Hosianna Evalita Situmorang juga memperkirakan suku bunga BI masih akan dipertahankan di level 4.75%. Hal ini lanjutnya, mengingat perlunya menjaga imbal hasil yang menarik dalam mendukung kestabilan nilai tukar rupiah.

“Juga sejalan mendorong transmisi penurunan suku bunga lanjutan yang sudah dilakukan di sepanjang 2025,” tutur Hosianna.

Ke depan, Hosianna memperkirakan di tahun 2026 ini masih ada potensi pelonggaran suku bunga oleh BI, sejalan ekspektasi pasar di global yang memperkirakan kebijakan The Fed untuk kembali melakukan pelonggaran.

“Jadi kapan waktunya BI ya kemungkinan mengikuti arah The Fed untuk menjaga spread yang menarik dalam menjaga kestabilan nilai tukar serta antisipasi menjaga tekanan inflasi domestik,” tambahnya.

Adapun Global Market Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto menilai, suku bunga masih akan dipertahankan di level 4,75% pada bulan ini, karena kemungkinan BI masih akan fokus menjaga stabilitas moneter yang pada akhirnya juga akan mempengaruhi stabilitas makroekonomi domestik.

Ia menjelaskan bahwa meskipun pertumbuhan ekonomi masih membutuhkan dukungan agar dapat tumbuh lebih agresif dan terdapat ruang untuk penurunan suku bunga, kondisi saat ini dinilai belum kondusif.

Baca Juga: Simak Alasan Lengkap BI Pertahankan Suku Bunga di Level 4,57% pada Penghujung 2025

“Di sisi yang lain juga kita lihat dari sisi laju kredit juga masih tumbuh single digit belum double digit dan kita lihat juga dari sektor riil juga kelihatannya masih butuh suku bunga yang lebih rendah untuk kebutuhan ekspansi,” kata Myrdal.

Oleh karena itu, ia menilai kebijakan BI saat ini masih difokuskan pada stabilitas moneter. Namun, ia membuka kemungkinan penurunan suku bunga setelah puncak inflasi sekitar April, terutama jika terdapat ruang dari penguatan nilai tukar rupiah.

Terkait upaya untuk menstabilkan nilai tukar rupiah, Myrdal menilai, langkah yang sudah dilakukan  BI saat ini sudah tepat, terutama dalam menjaga stabilitas suku bunga, serta melakukan berbagai intervensi nilai tukar.

Adapun  intervensi tersebut dilakukan melalui pasar spot rupiah, pasar non-deliverable forward (NDF), domestic non-deliverable forward (DNDF), pasar swap, hingga lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Menurutnya, kebijakan tersebut relevan karena persoalan utama tekanan nilai tukar rupiah berasal dari ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan dolar di dalam negeri. Ia menjelaskan bahwa permintaan dolar domestik, yang umumnya digunakan untuk kebutuhan impor, pembayaran utang luar negeri, maupun hasil investasi, belum sejalan dengan pasokan dolar yang tersedia.

“Walaupun kondisi likuiditas domestik untuk dolar itu berlimpah, tapi ternyata supply-nya tertahan, jadi itu yang bikin kenapa rupiah sekarang pergerakannya relatif melemah terhadap dolar,” tandasnya.

Selanjutnya: Anastasia Guerra: Bintang Italia Guncang Proliga 2026, Apa Keunggulannya?

Menarik Dibaca: Ancaman Kebocoran Data Instagram, Waspada Email Reset Password Palsu

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Foreign Exchange & Hedging Strategies Investing From Zero

[X]
×