kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.553   53,00   0,30%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

DPR desak pemerintah segera serahkan RUU Keistimewaan Yogyakarta


Selasa, 14 Desember 2010 / 12:22 WIB
ILUSTRASI. Tawaran Kemitraan Usaha Cuci Mobil Eco Car


Reporter: Edy Can | Editor: Edy Can

JAKARTA. Anggota Dewan Perwakilan Rakyat mendesak pemerintah segera menyerahkan Rancangan Undang-Undang (RUU) Keistimewaan Yogyakarta. Desakan ini muncul untuk meminimalisir timbulnya gejolak di daerah.

Anggota fraksi Partai Golongan Karya Nudirman Munir mengatakan, pemerintah harus segera menyerahkan draft tersebut untuk menjaga kesatuan dan persatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia sesuai dengan pasal 18 Undang-Undang Dasar 1945. Penyerahan ini untuk memberikan kepastian hukum. "Jangan dipermaikan sehingga menimbulkan gejolak," kata Nudirman, dalam rapat paripurna DPR, Selasa (14/12).

Seperti diketahui, RUU Keistimewaan Yogyakarta yang diusulkan pemerintah menimbulkan pro kontra. Banyak warga Yogyakarta yang tidak sepakat dengan isi rancangan aturan tersebut terutama tentang pemilihan gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta. Kemarin (13/12), sebagian besar masyarakat Yogyakarta berunjuk rasa menentang pasal yang menyatakan adanya pemilihan gubernur. Mereka menuntut pemerintah langsung menetapkan Sri Sultan Hamengkubuwono sebagai gubernur DI Yogyakarta.

Sejatinya, pemerintah telah selesai membahas draft RUU tersebut. Menteri Hukum dan HAM Patrialis Akbar mengatakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akan menerbitkan surat presiden untuk menunjuk pejabat yang membahas RUU tersebut dengan parlemen.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×