Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Outlook APBN 2026 menunjukkan perbaikan dibandingkan awal tahun ini.
Defisit anggaran pada semester I-2026 lebih rendah dibanding periode yang sama tahun lalu, sementara penerimaan perpajakan mulai kembali tumbuh positif.
Namun, di balik indikator tersebut, ekonom melihat masih ada alarm yang perlu diwaspadai, terutama dari memburuknya keseimbangan primer dan kualitas penerimaan negara.
Dalam outlook APBN 2026, Kementerian Keuangan memperkirakan pendapatan negara mencapai Rp 3.208,1 triliun atau 101,7% dari target APBN.
Namun, penerimaan perpajakan hanya diproyeksikan sebesar Rp 2.631,4 triliun atau 97,7% dari target.
Baca Juga: INDEF Minta Pemerintah Awasi Penerapan Komisi Ojol 8% agar Efektif dan Adil
Secara rinci, penerimaan pajak diperkirakan mencapai Rp 2.310,8 triliun atau 98% dari target, sedangkan kepabeanan dan cukai Rp 320,6 triliun atau 95,4%.
Di sisi lain, belanja negara diproyeksikan mencapai Rp 3.942,4 triliun atau 102,6% dari pagu APBN.
Dengan perkembangan tersebut, defisit APBN diperkirakan melebar menjadi Rp 734,3 triliun atau setara 2,85% terhadap produk domestik bruto (PDB), lebih tinggi dibanding target awal sebesar Rp 689,1 triliun atau 2,68% PDB.
Sementara itu, keseimbangan primer diperkirakan mencatat defisit Rp 152,1 triliun, jauh lebih dalam dibanding target APBN sebesar Rp 89,7 triliun.
Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan, indikator yang paling mencerminkan kualitas fiskal bukanlah besarnya defisit APBN, melainkan posisi keseimbangan primer.
"Menurut saya, indikator yang paling mencerminkan kualitas fiskal bukan semata besarnya defisit APBN, melainkan keseimbangan primer. Ketika keseimbangan primer kembali mengalami defisit yang jauh lebih besar dibanding tahun sebelumnya, itu memberi sinyal bahwa penerimaan negara bahkan belum cukup untuk membiayai belanja pokok sebelum bunga utang diperhitungkan," ujar Yusuf kepada Kontan, Selasa (7/7/2026).
Baca Juga: Masih Bisa Ditekan, Outlook Defisit 2,85% Belum Hitung Efisiensi Anggaran MBG
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan pemerintah mulai mengandalkan pembiayaan utang bukan hanya untuk memenuhi pembayaran bunga, tetapi juga untuk menopang pengeluaran dasar negara.
"Artinya, pemerintah tidak hanya berutang untuk memenuhi kewajiban pembayaran bunga, tetapi juga mulai mengandalkan pembiayaan utang untuk menopang pengeluaran dasar," katanya.
Dalam jangka pendek, kata Yusuf, kondisi tersebut masih dapat dikelola. Namun, jika berlangsung terus maka ruang fiskal akan semakin terbatas karena sebagian anggaran masa depan akan terserap untuk membayar kewajiban yang terus bertambah.
Yusuf juga mengingatkan persoalan mendasar lainnya berada pada kualitas penerimaan negara. Menurutnya, pada 2025 penerimaan pajak gagal mencapai target, sementara Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) justru melampaui target sehingga mampu menahan pelebaran defisit.














